Desember, bulan penutup di masehi 2018 ini. Kalau harus disebut
satu persatu tentu terlalu banyak nikmat yang sudah kudapat di tahun ini.
Sebetulnya, ngapain sih capek-capek buat catetan begini setiap bulan? Alesannya
simple, sekedar mengabadikan berbagai momen yang kulalui dalam hidup yang super
ajaib ini. Biar nantinya jadi pengingat buat terus bersyukur. Syukur-syukur
kalau bisa dibaca anak cucu nantinya bahwa neneknya pernah ngalamin hal-hal
begini begitu di abad ini. Looh, apasih.
Banyak hal menyedihkan
dan menakjubkan di tahun ini sudah tentu. Berpisah dari sekian banyak teman di
Bandung karena harus tinggal di Bali adalah salah satu momen menyedihkan itu.
Di sisi lain, hal ini juga menakjubkan. Saat tiba-tiba ku harus pindah tanpa
ada satu teman pun yang ku kenal di pulau Bali, terbang sendiri untuk pertama
kali, belajar bertahan hidup mandiri, ah banyak. Semua memang menegangkan tapi
yang selalu bikin terharu, DIA Sang Penyayang selalu Tunjukkan kebaikannya di
manapun, hingga akhirnya semua bisa kulalui dengan berjuta rasa kagumku akan
rencana-Nya. Alhamdulillaah :’)
Memang belum ada
pencapaian khusus yang kuraih di tahun ini, selain kenangan di hari guru 25
November lalu saat tiba-tiba adik tingkatku mengabari bahwa aku memperoleh
penghargaan untuk speech terbaik di tingkat asrama putri pesantren tempat tinggalku
sebelum pindah pulau. Wah, sampai lupa bulan apa tepatnya lomba tersebut
berlangsung.
Tidak istimewa memang,
tapi aku sangat ingat bagaimana para juri mengomentari penampilanku yang sangat
seadanya menurutku kala itu. Di salah satu komentarnya seorang juri menekankan,
bahwa belajar dan menguasai Bahasa Inggris itu penting bagi para santri, agar
mereka bisa menyebar kebaikan dan ilmu pada lebih banyak orang melalui bahasa
yang dipahami. Agar lebih komunikatif. Komentar ini yang memicuku untuk terus
belajar, walau kutau Bahasa Inggris tidak seistimewa bahasa Arab dalam islam. Sudah,
jangan bahas lagi pencapaian ya. Malu rasanya, belum bisa apa-apa di usia
segini. Bismillaah semoga jadi diri yang lebih baik lagi.
Bulan ini terasa spesial,
Karena seperti biasa ada rencana tak terduga yang terjadi. Tiba-tiba ada jadwal
kampus yang berubah, sehingga bisa pulang dan libur di rumah, menghadiri
nikahan sepupu, kasih kue untuk Ibu di hari spesialnya, berkumpul lengkap
dengan keluarga, dan bertemu teman-teman semasa sekolah dulu. Alhamdulillaah lagi.
Matur suksma (Terima kasih) juga Kak
Mareta, sudah menjadi perantara aku bisa sampai ke Ubung dengan cepat waktu
itu.
Berkaitan dengan suka
duka di tahun 2018, rasanya tidak akan bisa lepas ingatanku pada beragam
musibah dan bencana alam yang terjadi di sepanjang tahun ini. Dengan segala
kerendahan hati, kudo’akan semoga jiwa yang telah lebih dahulu meninggalkan
kehidupan dunia mendapat tempat istimewa di sisiNya. Aamiin.
Tahun 2018 ini
mengajariku dan teman-teman perantau lain untuk lebih mensyukuri hidup dan kuat
menghadapi segala kemungkinan. Bagaimana tidak, belum seminggu kami tinggal di
pulau dewata gempa terjadi di pulau Lombok dengan kuatnya. Pulau Bali yang bisa
dikatakan tidak terlalu jauh dari titik gempa sudah tentu merasakan betul
getarannya. Kepanikan terjadi dimana-mana. Bangunan asrama runtuh, kerusakan
berbagai fasilitas belajar, beberapa orang terluka, dan yang sulit adalah
ketika trauma menyerang beberapa rekan. Tidur bukan lagi hal yang menenangkan
kala itu. Agustus kami habiskan dengan rasa waswas karena gempa susulan masih
sering kami rasakan.
Selain di Lombok,
gempa juga terjadi di kota Palu dan Donggala sebulan setelahnya. Disusul
tsunami dan fenomena likuifasi, menjadikan begitu banyak korban jiwa
berjatuhan. Sungguh keadaan yang sangat menyedihkan, menegangkan. Lagi, dapat
dipastikan keluarga di rumah sangat mengkhawatirkan kami di perantauan beda
pulau ini.
Belum sembuh duka
Indonesia atas terjadinya gempa Lombok dan Palu Donggala, sebuah pesawat
dikabarkan hilang dan akhirnya didapati serpihannya di perairan Karawang pada
bulan Oktober. Lagi-lagi, ini membuatku yang baru mencoba ‘terbang’ merasa
sedih dan takut. Pembaca pasti tahu kenapa. Selain itu, Desember juga memiliki
luka di akhir tahun ini. Tsunami tiba-tiba menghantam pesisir Selat Sunda.
Sedih, karena lagi-lagi korban banyak berjatuhan. Tapi yang pasti, dari semua
kejadian ini sesungguhnya aku telah diingatkan untuk selalu menjadi manusia
yang terus memperbaiki diri dan siap saat kapan pun maut menjemput.
Membahas banyak
kesedihan di tahun ini bukan dimaksudkan untuk membuka luka lama, hanya saja
untuk dijadikan sebuah pengingat bagi penulis agar terus memperbaiki diri dalam
hal apa pun. Karena sejatinya, semua ada akhirnya. Semua kan ada balasnya. Terima
kasih sudah setia membaca catatan bulananku yang tidak terlalu penting ini.
Semoga kita menjadi sosok yang lebih baik di tahun-tahun mendatang. Aamiin.
Dan seperti biasa,
silakan komen/beri saran untuk penulisan selanjutnya baiknya selain laporan
mending tentang apa yaaaaa. See you.
Bukan siapa-siapa,
@fauziahdewia
Bantu subscribe ya, hehehehe




















