Senin, 31 Desember 2018

Catatan Akhir Tahun


Desember, bulan penutup di masehi 2018 ini. Kalau harus disebut satu persatu tentu terlalu banyak nikmat yang sudah kudapat di tahun ini. Sebetulnya, ngapain sih capek-capek buat catetan begini setiap bulan? Alesannya simple, sekedar mengabadikan berbagai momen yang kulalui dalam hidup yang super ajaib ini. Biar nantinya jadi pengingat buat terus bersyukur. Syukur-syukur kalau bisa dibaca anak cucu nantinya bahwa neneknya pernah ngalamin hal-hal begini begitu di abad ini. Looh, apasih.

Banyak hal menyedihkan dan menakjubkan di tahun ini sudah tentu. Berpisah dari sekian banyak teman di Bandung karena harus tinggal di Bali adalah salah satu momen menyedihkan itu. Di sisi lain, hal ini juga menakjubkan. Saat tiba-tiba ku harus pindah tanpa ada satu teman pun yang ku kenal di pulau Bali, terbang sendiri untuk pertama kali, belajar bertahan hidup mandiri, ah banyak. Semua memang menegangkan tapi yang selalu bikin terharu, DIA Sang Penyayang selalu Tunjukkan kebaikannya di manapun, hingga akhirnya semua bisa kulalui dengan berjuta rasa kagumku akan rencana-Nya. Alhamdulillaah :’)

Memang belum ada pencapaian khusus yang kuraih di tahun ini, selain kenangan di hari guru 25 November lalu saat tiba-tiba adik tingkatku mengabari bahwa aku memperoleh penghargaan untuk speech terbaik di tingkat asrama putri pesantren tempat tinggalku sebelum pindah pulau. Wah, sampai lupa bulan apa tepatnya lomba tersebut berlangsung.

Tidak istimewa memang, tapi aku sangat ingat bagaimana para juri mengomentari penampilanku yang sangat seadanya menurutku kala itu. Di salah satu komentarnya seorang juri menekankan, bahwa belajar dan menguasai Bahasa Inggris itu penting bagi para santri, agar mereka bisa menyebar kebaikan dan ilmu pada lebih banyak orang melalui bahasa yang dipahami. Agar lebih komunikatif. Komentar ini yang memicuku untuk terus belajar, walau kutau Bahasa Inggris tidak seistimewa bahasa Arab dalam islam. Sudah, jangan bahas lagi pencapaian ya. Malu rasanya, belum bisa apa-apa di usia segini. Bismillaah semoga jadi diri yang lebih baik lagi.

Bulan ini terasa spesial, Karena seperti biasa ada rencana tak terduga yang terjadi. Tiba-tiba ada jadwal kampus yang berubah, sehingga bisa pulang dan libur di rumah, menghadiri nikahan sepupu, kasih kue untuk Ibu di hari spesialnya, berkumpul lengkap dengan keluarga, dan bertemu teman-teman semasa sekolah dulu. Alhamdulillaah lagi. Matur suksma (Terima kasih) juga Kak Mareta, sudah menjadi perantara aku bisa sampai ke Ubung dengan cepat waktu itu.

Berkaitan dengan suka duka di tahun 2018, rasanya tidak akan bisa lepas ingatanku pada beragam musibah dan bencana alam yang terjadi di sepanjang tahun ini. Dengan segala kerendahan hati, kudo’akan semoga jiwa yang telah lebih dahulu meninggalkan kehidupan dunia mendapat tempat istimewa di sisiNya. Aamiin.

Tahun 2018 ini mengajariku dan teman-teman perantau lain untuk lebih mensyukuri hidup dan kuat menghadapi segala kemungkinan. Bagaimana tidak, belum seminggu kami tinggal di pulau dewata gempa terjadi di pulau Lombok dengan kuatnya. Pulau Bali yang bisa dikatakan tidak terlalu jauh dari titik gempa sudah tentu merasakan betul getarannya. Kepanikan terjadi dimana-mana. Bangunan asrama runtuh, kerusakan berbagai fasilitas belajar, beberapa orang terluka, dan yang sulit adalah ketika trauma menyerang beberapa rekan. Tidur bukan lagi hal yang menenangkan kala itu. Agustus kami habiskan dengan rasa waswas karena gempa susulan masih sering kami rasakan.

Selain di Lombok, gempa juga terjadi di kota Palu dan Donggala sebulan setelahnya. Disusul tsunami dan fenomena likuifasi, menjadikan begitu banyak korban jiwa berjatuhan. Sungguh keadaan yang sangat menyedihkan, menegangkan. Lagi, dapat dipastikan keluarga di rumah sangat mengkhawatirkan kami di perantauan beda pulau ini.

Belum sembuh duka Indonesia atas terjadinya gempa Lombok dan Palu Donggala, sebuah pesawat dikabarkan hilang dan akhirnya didapati serpihannya di perairan Karawang pada bulan Oktober. Lagi-lagi, ini membuatku yang baru mencoba ‘terbang’ merasa sedih dan takut. Pembaca pasti tahu kenapa. Selain itu, Desember juga memiliki luka di akhir tahun ini. Tsunami tiba-tiba menghantam pesisir Selat Sunda. Sedih, karena lagi-lagi korban banyak berjatuhan. Tapi yang pasti, dari semua kejadian ini sesungguhnya aku telah diingatkan untuk selalu menjadi manusia yang terus memperbaiki diri dan siap saat kapan pun maut menjemput.  

Membahas banyak kesedihan di tahun ini bukan dimaksudkan untuk membuka luka lama, hanya saja untuk dijadikan sebuah pengingat bagi penulis agar terus memperbaiki diri dalam hal apa pun. Karena sejatinya, semua ada akhirnya. Semua kan ada balasnya. Terima kasih sudah setia membaca catatan bulananku yang tidak terlalu penting ini. Semoga kita menjadi sosok yang lebih baik di tahun-tahun mendatang. Aamiin.

Dan seperti biasa, silakan komen/beri saran untuk penulisan selanjutnya baiknya selain laporan mending tentang apa yaaaaa. See you.



Bukan siapa-siapa,

@fauziahdewia

*Semoga 2019 bisa konsisten upload video informatif di channel Fauziah Anggraeni Dewi
Bantu subscribe ya, hehehehe

Jumat, 30 November 2018

November Baper


Menyambung catatan bulan lalu. Tepat tanggal 1 November kemarin aku pulang, melintasi beberapa provinsi melalui udara. Jangan ditanya bagaimana takutnya aku. Yaa, terbang sendiri setelah belum lama sebuah maskapai penerbangan alami kecelakaan dengan korban jiwa yang tidak sedikit. Hmmm, it really hurts actually.

Tapi bagaimana lagi. Hidup jauh dari orang tua semenjak mulai kuliah S1 di Bandung sudah mengajariku banyak hal soal berani. Bukan kali pertama aku pergi jauh sendirian. Lagi pula, ini penerbangan kedua setelah pertama terbang ke pulau seribu pura ini. Jadi, bismillaah lagi-lagi hanya kuandalkan Dia dalam perjalanan kali ini.

Oya, niat pulang ini benar-benar dilatari oleh sepinya Singaraja karena teman-teman pulang untuk mengikuti SKD CPNS di daerah masing-masing. Jadi, saat namaku dinyatakan lolos tahap administrasi, otomatis aku jadikan seleksi ini alasan untuk pulang. Sudah rindu juga orangtua dan keluarga rasanya. Bagaimana tidak, setelah dinyatakan bahwa aku menjadi salah satu peserta PPG yang ditempatkan di UNDIKSHA Singaraja yang super mendadak, aku belum sempat menemui keluarga. Untungnya, Ibu Apa ke Bandung dan sempat mengantar ke bandara kala itu. Sungguh perpisahan yang tragis bukan? Hmmm.

Baiklah, kembali ke laporan. Singkatnya, di perjalanan super dadakan ini dilengkapi dengan berbagai pertolongan-Nya melalui banyak orang baik di sekitarku. Dari mulai rencana pulang berangkat sendiri ke bandara di Bali Selatan, tiba-tiba ada teman yang juga hendak pulang ke Lombok menyertai. Sampai waktu penerbangan tiba pun teman shaleha ini masih menunggui, MaasyaAllaah.

Tiba di Bandung, tidak bisa dihitung pula kebaikan dari sahabat-sahabat semua. Terlebih kebaikan salah satu rekan asramaku, teh Fitri mojang Lembang baik hati yang sudah bersedia menampungku untuk melaksanakan tes kala itu. Dilengkapi oleh rekan-rekan sekamarku di asrama dulu, perjalanan kemarin sungguh berkesan. Terima kasiih. Selesai seleksi, tujuan yang sesungguhnya adalah pulang ke rumah. Yaa, aku bukan warga Bandung, hanya penduduk biasa yang belajar di Bandung. Rumahku ada di Sukabumi, kabupaten tepatnya. Jaraknya dari Bandung sangatlah tidak bisa dikatakan dekat. Kalau ada waktu, coba deh search kecamatan Waluran atau Jampangkulon di maps. You’ll know how far it is. Jadi, pulang kali ini adalah sebenar-benar perjuangan berat buatku.

Seperti lagu Endang Soekamti yang menyatakan “datang akan pergi, lewat ‘kan berlalu, ada kan tiada, bertemu akan berpisah.” Waktu izin telah berakhir. All I have to do is kembali ke pulau dewata sebelum banyak tertinggal. Berat rasanya. Sedari dulu aku tidak pandai membendung tangis saat harus pergi ke Bandung setelah lama di rumah. Dan sekarang? Hmmm, jangan lagi ditanya. Harus pergi setelah hanya beberapa hari bertemu dan berkumpul dengan beberapa orang di kampung halaman. Sesak. Nangis sudah jelas.

Waktu tempuh dari rumahku menuju bandara di Bandung itu sekitar 6-7 jam (jika tanpa macet). Lalu, dari bandara Bandung ke Denpasar perjalanan menghabiskan waktu sekitar 2 jam (belum delaynya). Dan, dari bandara Denpasar di Bali selatan menuju tempat tinggalku di Bali utara membutuhkan waktu tempuh sebanyak kurang lebih 2,5 jam jika dengan sepeda motor. Jadi, bisa dibayangkan harus jam berapa aku terbang agar tidak sampai terlalu sore di Denpasar?

Di sini, pertolongan-Nya hadir menakjubkan lagi. Dengan kebaikan hatinya, teh Asti salah satu temanku di daerah Buah Batu memperbolehkanku singgah di rumah saudaranya. Di Bandung kala itu hujan. Ia menungguiku yang terjebak jahatnya macet dengan dua payung di tangannya. Padahal, dia harus berjalan jauh dari rumah saudaranya itu. Sudah dijemput, basah-basahan dengan jalan kaki, ia sediakan makan malam pula.  Besoknya sebelum berangkat pun, sarapan disediakan. Padahal dia harus berangkat kuliah sangat pagi. Yaa Allaah. Terima kasih teh.

Pagi, sekitar pukul 08.00 WIB aku menuju bandara Husein Sastranegara Bandung diantar driver online yang praktis mengurangi beban seorang yang harus pergi sendiri tanpa tahu jalan sepertiku. Hehehe.  Tiba di bandara, apakah sedih? Yaa. Banyak orang yang diantar oleh orang tua, keluarga, dan rekan-rekan untuk pergi. Aku? Sendiri. Sampai-sampai seorang Ibu yang hendak mengantar anak lelakinya bertanya, “Neng sendirian?” Kubalas dengan anggukan dan senyum. Sebetulnya ada beberapa rekan yang meminta untuk bisa antar ke bandara, tapi rencana keberangkatanku tidak kukabarkan pada mereka. Aku tau, mereka akan repot kalau harus ke bandara, hanya untuk mengantar. Rasanya doa mereka pun sudah cukup dan memang itu yang terpenting.

Waktu penerbangan tiba. Alhamdulillaah, atas izin-Nya dan doa dari segenap keluarga dan teman aku landing dengan selamat. Kebaikan-Nya kembali hadir setelah sekitar pukul 14.00 aku tiba di I Gusti Ngurah Rai airport. Teman sekamarku Firsty menawari untuk pulang bersama. Sungguh, ku terharu. Setelah makan bersama di daerah Kerobokan, kami menempuh perjalanan ke Bali Utara melawan panasnya Denpasar dan dinginnya Bedugul. Alhamdulillaah, lancar selamat.

Well, ku kembali menjalani rutinitas di pulau dewata. Setelah ditinggal pulang, rasanya semakin panas suhu di sini. Jika di Lembang suhunya 17°C, maka di SIngaraja bisa sampai 34°C. Benar kata temanku, mungkin ini salah satu tanda untukku agar bersyukur bisa menjadi warga Jawa Barat dengan suhu ademnya. Alhamdulillaah…

Di rutinitas November ini, siklus kuliah berjalan seperti biasa. Cerita berkesannya adalah, aku dan teman-teman lain bisa menyaksikan sebuah event kreasi mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni dengan suguhan seni yang luar biasa keren. Bulan ini juga dilengkapi dengan hadirnya seorang praktisi pendidikan bernama Adrian Rodgers. Kami belajar dan bermain bersama para dosen dalam sebuah kelompok. Seruu. Selain itu, aku juga menghabiskan waktu dengan hal-hal gila tapi menyenangkan (sambung lagu, truth or dare, bercanda, berburu durian, curhat ekstra, dan banyak hal lainnya) bersama teman-temanku. Alhamdulillaah. Semua membuat kami lebih mengerti bagaimana indahnya berteman, bagaimana memahami sikap setiap orang.

Oya, berkaitan dengan durian, banyak yang tanya di snapgram ko bisa murah? Yaa, bagaimana tidak, harganya mulai dari 5.000 saja loh. Entah bagaimana, di Singaraja harga buah memang relatif murah. Asal yang lokal, berasal dari penduduk asli sini. Selain durian, ada lagi buah yang mudah ditemukan di sini, yaitu anggur. Sahabatku yang asli Bali, Negara tepatnya terakhir membawakan oleh-oleh untuk kami anggur segar yang dibelinya hanya dengan 15.000 rupiah untuk 2kg. Dan adik tingkatku yang sudah lebih dulu tinggal di Singaraja menambahkan, bahkan harga anggur segar bisa hanya 5.000 rupiah/kg. Wow kan? Jadi, jangan ragu untuk main ke Bali Utara ya. Kekayaan alamnya ga kalah ko dengan daerah Bali lainnya. J

Ternyata masih ada lagi momen yang tak mungkin aku lupakan di November ini. Betapa tidak, seperti sebelum-sebelumnya aku dan teman-teman tanpa banyak merencanakan bisa kembali mengeksplor indahnya pulau dewata ini. Pada 24 November, aku dan teman-teman membentuk kesebelasan untuk mengunjungi kawasan wisata Gili Putih, di Desa Sumberkima Kecamatan Gerokgak.

Gili Putih merupakan sebuah destinasi pantai baru di Bali Utara, dimana tujuan utamanya ialah sebuah pulau berupa gundukan pasir putih yang cantik. Untuk menuju pulau ini, para pengunjung dapat menggunakan perahu mesin nelayan yang banyak ditawarkan di sana. Dengan harga 300.000,- rupiah untuk menuju dan kembali dari pulau, para pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan yang menakjubkan. Air laut yang jernih, pasir putih dan hewan-hewan yang jelas terlihat di bawah beningnya permukaan air, ada juga keramba apung tempat budidaya perikanan, udara segar, ah tidak rugi rasanya. Untuk mahasiswa dan para nekat travelers, jangan khawatir harga ini bisa dibagi banyak orang. Aku pun membaginya untuk sebelas orang. Hehehe, hemat kan?

Belum selesai, November ini dilengkapi juga dengan kajian rutin di Ngareng, akhir peerteaching, hujan kedua setelah 4 bulan tinggal, dan adanya festival Jepang yang diadakan salah satu jurusan di kampusku. Momen lainnya terlalu panjang jika dijelaskan. Beberapa view Gili Putih dan wisata alam Bali murah meriah lainnya ada di channel YOUTUBE Fauziah Anggraeni Dewi ya. Silakan klik dan subscribe, *eeeh.

Semua kisah ini, adalah untuk diingat dan disyukuri setiap harinya. Memang, bagiku semuanya bikin baper, tapi belum tentu buat readers semua, hehehe. Sedihnya perpisahan, hebatnya orang tua, harunya pertemanan, nikmatnya berjuang, semua kalau dibaperin ya baper. Tapi, siapa suruh sedih? Siapa suruh baper? Jadi, stay strong!

See you in the end of December. 

Terima kasih lagi sudah mampir, boleh komen dan kasih masukan ya. :)



Temanmu,

 Fauziah Anggraeni Dewi

Rabu, 14 November 2018

Laporan Oktober

Bulan ketiga ini diawali dengan rutinitas workshop seperti siklus sebelumnya. Ada juga  kegiatan mingguan rutin yang ku ikuti bersama kawan Muslimah lainnya di Singaraja ini, yakni ngaji bareng atau biasa kami singkat NGARENG.

Ngareng ini dilaksanakan rutin setiap Jumat malam. Di dalamnya kami adakan tilawah bersama, sharing dan silaturahim. Waktunya sekitar pukul 19.15 WITA atau ba’da isya. Tempatnya bergiliran, di Jalak Putih atau di tempat tinggal kami, Jalan Kenanga. Di hari libur kemarin, kajian juga dilaksanakan di taman kota. Senang rasanya, dikuatkan oleh para muslimah lain yang juga berjuang dan menjadi keluarga di perantauan ini.

DI salah satu pertemuan ngareng yang ku ikuti, seorang pembicara berkata bahwa hidup di pulau dewata ini memang tidak mudah. Perlu usaha lebih untuk bisa tetap istiqomah dalam kebaikan. Satu lagi yang kuingat betul dari kajian tersebut dikatakan ‘bisa jadi orang tuamu melepas kamu untuk menempuh pendidikan ini dengan berat hati. Duh, Bali.”

Betul, bicara soal merantau memang tidak mudah. Rasanya hidup jauh dari orang tua dalam waktu yang relatif lama terlebih di beda pulau begini memang tidak mudah sama sekali. Demikain pula denganku. Sempat terbersit rasa bosan hidup LDR-an terus dengan Ibu Apa dan keluarga. Mulai dari kuliah 4 tahun, tinggal di pondok hampir setahun, dan sekarang tambahan (kalau diizinkan sampai selesai) setahun untuk pendidikan profesi ini. Tapi kembali lagi, semua ini sudah menjadi rencana-Nya, sang Penata hidup terbaik. Menjalaninya dengan penuh rasa syukur diikuti sabar adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan tahapan ini. Bismillaah..

Oya, kembali lagi ke ‘laporan bulanan’ hehe. Oktober ini selain diisi dengan siklus lanjutan dan ngareng, ada juga jalan-jalannya. Alhamdulillaah, masih diberi kesempatan untuk bertadabbur alam, menyadari betapa kecilnya diri ini dibanding megahnya gunung, luasnya laut, indahnya langit, daaan banyak lagi ciptaan-Nya.

Jalan-jalan Oktober ini kami (Kaliuntu girls plus dua putri Bali: Putu dan Mareta) kunjungi Air Terjun Jembong, Ambengan. Lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Sekitar 20 menit dengan sepeda motor, sampai. Cocok untuk target jalan-jalan dadakan seperti yang kami lakukan kemarin.

Di tempat ini, ada beberapa kolam yang airnya bersumber dari air terjun jembong. Segaaaar. Ini yang ku suka dari kolam renang di Singaraja. Dulu di kolam Alamandao (lihat postingan sebelumnya), lokasinya di tengah-tengah hamparan sawah dan gunung, airnya jernih, segar. Ini pun sama. Segar airnya benar-benar tidak membuat rambut atau kulitmu rusak lho. Ditambah, pemandangannya yang juara dengan tiket masuk super murah meriah. Kalau di di Alamandao Rp. 10.000 untuk bisa masuk, maka di Jembong ini hanya perlu Rp. 5.000 untuk masuk ke area air terjun dan 5.000 juga untuk kolam renang dengan bebas penggunaan ban renang. Pilih salah satu saja juga bisa. Bonus yang tak kalah menarik dari tempat ini ialah, kamu bisa nikmati rindangnya pepohonan yang jika kebetulan duriannya sedang berbuah, dijamin bikin kepingin. Hihihi.

Cerita lain di Oktober ini ialah keharuan ditinggal mudik beberapa rekan ke kampung halamannya. Ada yang ke Jogjakarta, Surabaya, Sidoarjo, Kediri, dan daerah lain di Jawa tengah dan timur. Kenapa pulang? Rekan-rekanku mengikuti seleksi CPNS dan melaksanakan SKD di sana. Lalu, apakah aku juga akan pulang? Ah, entahlah. Masih menunggu Sang Penentu menunjukkan lembar skenarionya lagi. Hehehe

Hei, ternyata tepat di ujung Oktober kemarin rasanya aku bisa pulang. Tepat pada tanggal 31 Oktober setelah pengumuman jadwal tes CPNS Kemenag Jabar sekitar pukul 20.30 WITA resmi keluar. Dan tahukah teman? Fau harus pulang dan pesan tiket saat itu juga untuk bisa pulang ke Jawa besok subuhnya. Memang, ikuti seleksi CPNS ini adalah satu-satunya cara agar bisa izin pulang beberapa hari dari perkuliahan. Jadi, setelah dinyatakan seleksi administrasi lolos dan bisa ikut tahap selanjutnya, jelas aku katakana: ”Ya. Pulang!”

Cerita selanjutnya, soal mendadak harus terbang saat belum lama sebuah maskapai penerbangan yang biasa juga kupakai mengalami kecelakaan akan dibahas di laporan November ya. Maaf, laporan Oktober ini telat publish karena laptopnya lelah (mungkin) diajak kesana-sini Singaraja-Denpasar-Bandung-Sukabumi-Bandung-Denpasar-Singaraja. :”)

Semoga ga bosan dengan tulisan yang lebay ini. Terima kasih sudah mengikuti jalan ceritaku yang begini adanya. Kudoakan, semoga pembaca semua sehat selalu ya. Aamiin.





Singaraja, 14 November 2018
Presentasi Siklus ke sekian

With arek Suroboyo

Ngareng di tamkot Singaraja

Ngareng di Jalan Kenanga

Jembong waterfall


Belajar jutek, tapi malah...

Senin, 01 Oktober 2018

September Ceria



Hollaaa. October is coming.
Semoga sehat selalu yaa.

Memasuki bulan ketiga, setelah 31 Juli terbang rasanya semakin banyak hal-hal menakjubkan terjadi. September di Bali telah terlalui. Beberapa momen akan coba dituang di sini, hehehe.

Banyak pertanyaan, di Bali ngapain? Main melulu. Waaah, tidak. Ini jawabannya.

Rutinitas kami, mahasiswa PPG Bahasa Inggris dalam seminggu (weekdays) ialah workshop. Workshop ini terdiri dari beberapa siklus untuk tiap tingkatan SMP, SMA, dan SMK. September kemarin kami masuk siklus 3-4, yakni memperdalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran untuk SMP kelas VII dan VIII.

Setelah workshop, di setiap akhir siklus kami punya agenda untuk presentasi kelompok dan peer-teaching. Agenda terakhir tiap siklusnya adalah formative test. Begitulah kurang lebih gambaran kegiatan perminggu kami.

Selanjutnya, agar Pendidikan dan hiburan seimbang kami seringkali diberi saran oleh dosen-dosen tercinta untuk jangan terlalu terkurung dalam rutinitas kuliah. Nikmati indahnya Bali, explore kemana saja. Biar pas ditanya, “sudah kemana saja di Singaraja” bisa jawab. Hehe.

Oya, Singaraja itu Bali bagian utara. Ibu kota kabupaten Buleleng. Letaknya cukup jauh dari Denpasar menurutku. Dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dibutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk bisa mencapai lokasi kampusku.

Nah, Singaraja ini sering disebut sebagai kota pendidikannya Bali. Salah satu dosenku sempat bilang juga, “kalau mau belajar sungguh-sungguh, Singaraja lah tempatnya.” Karena memang, para pendatang di kota ini kebanyakan adalah pelajar. Di sini juga tidak terlalu ramai seperti Denpasar. 

Bicara soal keindahan, sungguh Singaraja memiliki pesonanya yang luar biasa. Pantainya, sawah-sawah, bunga-bunga di sekitar pemukiman warga, bangunan khas Bali, keberagaman warganya yang tetap saling menghargai, ah banyak lagi.

Jujur, sempat merasa heran dan ragu teramat sangat ketika harus mengambil pilihan ini. Tapi seiring waktu berjalan, semakin tersadari rasanya bahwa ini adalah salah satu jawaban dari do'aku. Benar, tanpa disadari aku sering berkata pada diri sendiri dan berharap pada Sang Maha Pendengar bahwa aku akan belajar lagi, entah bagaimana caranya harus bisa tanpa biaya dari orang tua lagi (Tapi waktu itu pernah berpikir juga untuk belajar bareng dan dibiayain suami sih, hehehe). Benar saja, di Bandung selain belajar dari banyak lingkungan di sini pun menjadi ladang ilmu selanjutnya. Alhamdulillaah..

Selanjutnya, tugasku adalah menjalani setiap kegiatan sebaik mungkin dengan niat belajar menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa bermanfaat bagi banyak orang nantinya. And I believe, everything happens for a reason. Maha Penentu pasti punya alasan kenapa aku bisa sampai di titik ini. :)  

Oya, bicara soal momen menarik di bulan September lalu ada beberapa yang kucoba tuang di catatan kali ini. Pertama, pengalaman jadi interpreter amatiran di Pelabuhan Ex-Buleleng untuk bantuin anak-anak kecil disana minta foto ke Poland man. Lalu, jalan-jalan (kegiatan keasramaan /outbond) ke The Sunas Bali di Desa Menyali, atas undangan salah satu dosen kami yang baik hati, Pak Budashi. Selanjutnya, kegiatan explore ala-ala ‘Kaliuntu Girls’ (sebutan untuk kami yang telah pindah dari Banyuning :p ) ialah menuju Sekumpul Waterfalls. Ah, kalian harus coba ke sana pokonya. Indah pisan!

Next sweet moment, KG juga ngabolang ke Bedugul. Yaa, tempat terkenal di Bali yang rasanya tak pernah terlewat untuk dikunjungi para pengunjung domestik ataupun mancanegara: Pura Uundanu Beratan. Siapa yang tak kenal tempat ini. Walau ini kali kedua penulis mengunjungi tempat ini, tetap saja tak bosan rasanya. Oh ya, gambar pura ini juga terdapat pada lembaran uang kertas pecahan 50.000 lho, hayoo  masih ingat?

Pepohonan, bunga-bunga, hamparan rumput, bentangan danau, udara segar, ditambah pemandangannya yang keren rasanya akan sangat mungkin membuat Anda betah berlama-lama berada di lokasi ini. Terlebih bagi Anda yang hobi mendokumentasikan momen lewat gambar atau video, cocok deh. Hehehe .

Well, momen terakhir di penghujung September kemarin adalah jalan-jalan dadakan ke Denpasar dalam rangka ikuti kegiatan Merajut Kebangsaan di monumen Bajra Sandhi. Ya, kegiatan yang diikuti oleh perwakilan seluruh mahasiswa di Bali ini berlangsung dengan meriah pada 29 September lalu. Hadir Pak Menteri ristekdikti, para mahasiswa dan Rektor berbagai perguruan tinggi di Bali pada kegiatan ini.

Dadakan, kami diberitahukan untuk ikut sekitar satu jam sebelum pemberangkatan. Untungnya, transportasi disediakan kampus, dengan bus. Jadi, tak ada alasan untuk kami tidak berangkat. Akhirnya, berangkatlah kami menuju Bali Selatan.
Oya, sudah dulu ya. Sudah pukul 11:22 PM di sini. Besok kuliah. Hehehe

Semoga Oktober jadi bulan yang lebih baik lagi. Kalau punya tempat rekomendasi untuk dikunjungi sekitaran Singaraja, tulis di kolom komentar yaa. Semangat selalu apapun yang sedang Anda jalani. Jangan lupa bersyukur dan senyum. 😊


Singaraja, 1 Oktober 2018



Hitam Putih di hari Rabu

Situasi kelas
Interpreting them
Poland Man
Peer Teaching 1







Pura Ulun Danu Beratan


Pantai Penimbangan



The Sunas Bali

Monumen Braja Sandhi












Jumat, 28 September 2018

Sebulan di Bali

Hai. Namaku Fauziah Anggraeni Dewi. Warga asli Indonesia yang lahir di tanah Sunda, Sukabumi Jawa Barat. Anak pertama dari dua orang istimewa yang kusebut Ibu Apa. Saat ini aku tinggal di salah satu pulau paling dikenal oleh warga dunia: Pulau Dewata, Bali.
Sudah sebulan lebih aku tinggal di Singaraja. Penuh drama dan kisah menakjubkan rasanya mengapa aku bisa sampai di sini. Ya, ini semua bermula dari Pendidikan Profesi Guru Prajabatan yang kujalani. Mulai dari tak ada bayangan sama sekali tentang apa itu PPG, tak satupun teman, tempat yang jauh dari tempat tinggal, lamanya masa Pendidikan, dan ketakutan lainnya adalah alasan mengapa semua ini begitu tak mungkin sebelumnya. Dengan beragam pertimbangan dari banyak pihak, ku mulai semuanya.
Pertama kalinya ku injakkan kaki di kota ini ialah pada 31 Juli 2018 lalu. Sudah banyak hal berharga yang kudapatkan di kota ‘yang kata salah satu dosenku’ adalah kota Pendidikan ini. Mulai dari teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia barat hingga timur dengan segala keunikan bahasanya, belajar hidup dengan saling menghargai perbedaan, belajar mensyukuri hidup, belajar menjadi manusia yang lebih manfaat dan berkualitas, ah banyak lagi yang tak bisa diungkapkan.
Sudah banyak juga momen berharga yang kulalui. Pertama kali tinggal di asrama Jineng Dalem, dengan fasilitas mirip-mirip hotelnya, hingga terpaksa harus pindah karena gempa 5 Agustus merusak bangunan-bangunan asrama. Setelah itu, aku tinggal bersama 5 teman lain di daerah Banyuning. Di Jalan Pulau Batam, Gang Murai tepatnya. Dan hari ini, rencananya kami akan pindah lagi ke sebuah rumah di daerah Kaliuntu, jalan Kenanga yang tak jauh dari FBS Undiksha.
Oya, berkaitan dengan momen menyenangkan selama sebulan di sini, aku telah banyak belajar bahasa daerah lain dan mengunjungi beberapa wilayah yang luar biasa indahnya di Bali. Pertama, jalan-jalan kami diawali dari menyewa angkot pak Ketut (disini dibilang bemo) menuju Buleleng Festival. Sesaat setelah sampai di festival, kami disambut oleh gempa yang cukup kuat, huhuhu.
Beberapa kali, aku juga mengunjungi Lovina Beach. Yang pertama, refreshing bersama kelima temanku setelah weekdays kami sibuk kuliah. Kedua kalinya, aku dan 5 temanku (Banyuning Girls) menjadi panitia HUT RI ke-73 mempersiapkan beragam lomba kerakyatan untuk PPG Prajabatan 3 (angkatan kami) di sana. Lalu, makan di KFC yang wow dengan modus kerjakan tugas sampai hampir tutup. Momen Iedul Adha di taman kota dan makan besar di Jalak Putih pun menjadi pelengkap momen indah kami di awal perjuangan ini.
Mempelajari beragam bahasa dan hidup Bersama orang-orang baru dari berbagai daerah adalah hal yang menakjubkan juga bagiku. Di sini, aku punya teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka putra-putri terbaik dari Magetan, Kebumen, Kediri, Malang, Sidoarjo, Yogyakarta, Surabaya, Kediri, Ponorogo, Bali, Ambon, Kupang, dan Alor. Ah, beruntung rasanya.
Semoga bulan lainnya akan terus menyenangkan dan berjalan lancar.
Bismillaah…

Singaraja, 1 September 2018



Lovina Beach for the first time. #aftertheearthquake

Lovina beach, for celebrating HUT NKRI 73

Nugas sampai malam

Silaturahim Iedul Adha



Kamis, 05 Juli 2018

Rindu, Bertahun Tak Bertemu.

Haloooo.
Lama tak menyapa.
Semoga sehat selalu ya kamu. Siapa? Ya kamu deh, yang baca. Ahaha

Kesekian kali buat akun dan lupa tak dikelola dengan baik. Duh, maaf.
Well, terakhir coba-coba post sesuatu yg ada kaitannya dengan perkuliahan kala itu. Ya, tentang tugas Translation di Tahun 2016. Ga terlalu penting sih, cuma daripada blog kosong nyaring bunyinya? *Eeeh.
Sekarang apa? Hmmm baiklah, banyak banget hal menakjubkan terjadi di hidup ini (apasih). Beberapa momen sedang coba dituang ke dalam tulisan dan sedang dalam proses penulisan, semoga segera selesai (re: ada niat melanjutkan nulis).

Oya, sekarang sudah Juli 2018 ya.
Sebentar lagi genap setahun lulus dari kehidupan perkuliahan. Time flies, you get old, and... Are you better today?
Tunggu yaa. See you. :)