Rabu, 14 November 2018

Laporan Oktober

Bulan ketiga ini diawali dengan rutinitas workshop seperti siklus sebelumnya. Ada juga  kegiatan mingguan rutin yang ku ikuti bersama kawan Muslimah lainnya di Singaraja ini, yakni ngaji bareng atau biasa kami singkat NGARENG.

Ngareng ini dilaksanakan rutin setiap Jumat malam. Di dalamnya kami adakan tilawah bersama, sharing dan silaturahim. Waktunya sekitar pukul 19.15 WITA atau ba’da isya. Tempatnya bergiliran, di Jalak Putih atau di tempat tinggal kami, Jalan Kenanga. Di hari libur kemarin, kajian juga dilaksanakan di taman kota. Senang rasanya, dikuatkan oleh para muslimah lain yang juga berjuang dan menjadi keluarga di perantauan ini.

DI salah satu pertemuan ngareng yang ku ikuti, seorang pembicara berkata bahwa hidup di pulau dewata ini memang tidak mudah. Perlu usaha lebih untuk bisa tetap istiqomah dalam kebaikan. Satu lagi yang kuingat betul dari kajian tersebut dikatakan ‘bisa jadi orang tuamu melepas kamu untuk menempuh pendidikan ini dengan berat hati. Duh, Bali.”

Betul, bicara soal merantau memang tidak mudah. Rasanya hidup jauh dari orang tua dalam waktu yang relatif lama terlebih di beda pulau begini memang tidak mudah sama sekali. Demikain pula denganku. Sempat terbersit rasa bosan hidup LDR-an terus dengan Ibu Apa dan keluarga. Mulai dari kuliah 4 tahun, tinggal di pondok hampir setahun, dan sekarang tambahan (kalau diizinkan sampai selesai) setahun untuk pendidikan profesi ini. Tapi kembali lagi, semua ini sudah menjadi rencana-Nya, sang Penata hidup terbaik. Menjalaninya dengan penuh rasa syukur diikuti sabar adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan tahapan ini. Bismillaah..

Oya, kembali lagi ke ‘laporan bulanan’ hehe. Oktober ini selain diisi dengan siklus lanjutan dan ngareng, ada juga jalan-jalannya. Alhamdulillaah, masih diberi kesempatan untuk bertadabbur alam, menyadari betapa kecilnya diri ini dibanding megahnya gunung, luasnya laut, indahnya langit, daaan banyak lagi ciptaan-Nya.

Jalan-jalan Oktober ini kami (Kaliuntu girls plus dua putri Bali: Putu dan Mareta) kunjungi Air Terjun Jembong, Ambengan. Lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Sekitar 20 menit dengan sepeda motor, sampai. Cocok untuk target jalan-jalan dadakan seperti yang kami lakukan kemarin.

Di tempat ini, ada beberapa kolam yang airnya bersumber dari air terjun jembong. Segaaaar. Ini yang ku suka dari kolam renang di Singaraja. Dulu di kolam Alamandao (lihat postingan sebelumnya), lokasinya di tengah-tengah hamparan sawah dan gunung, airnya jernih, segar. Ini pun sama. Segar airnya benar-benar tidak membuat rambut atau kulitmu rusak lho. Ditambah, pemandangannya yang juara dengan tiket masuk super murah meriah. Kalau di di Alamandao Rp. 10.000 untuk bisa masuk, maka di Jembong ini hanya perlu Rp. 5.000 untuk masuk ke area air terjun dan 5.000 juga untuk kolam renang dengan bebas penggunaan ban renang. Pilih salah satu saja juga bisa. Bonus yang tak kalah menarik dari tempat ini ialah, kamu bisa nikmati rindangnya pepohonan yang jika kebetulan duriannya sedang berbuah, dijamin bikin kepingin. Hihihi.

Cerita lain di Oktober ini ialah keharuan ditinggal mudik beberapa rekan ke kampung halamannya. Ada yang ke Jogjakarta, Surabaya, Sidoarjo, Kediri, dan daerah lain di Jawa tengah dan timur. Kenapa pulang? Rekan-rekanku mengikuti seleksi CPNS dan melaksanakan SKD di sana. Lalu, apakah aku juga akan pulang? Ah, entahlah. Masih menunggu Sang Penentu menunjukkan lembar skenarionya lagi. Hehehe

Hei, ternyata tepat di ujung Oktober kemarin rasanya aku bisa pulang. Tepat pada tanggal 31 Oktober setelah pengumuman jadwal tes CPNS Kemenag Jabar sekitar pukul 20.30 WITA resmi keluar. Dan tahukah teman? Fau harus pulang dan pesan tiket saat itu juga untuk bisa pulang ke Jawa besok subuhnya. Memang, ikuti seleksi CPNS ini adalah satu-satunya cara agar bisa izin pulang beberapa hari dari perkuliahan. Jadi, setelah dinyatakan seleksi administrasi lolos dan bisa ikut tahap selanjutnya, jelas aku katakana: ”Ya. Pulang!”

Cerita selanjutnya, soal mendadak harus terbang saat belum lama sebuah maskapai penerbangan yang biasa juga kupakai mengalami kecelakaan akan dibahas di laporan November ya. Maaf, laporan Oktober ini telat publish karena laptopnya lelah (mungkin) diajak kesana-sini Singaraja-Denpasar-Bandung-Sukabumi-Bandung-Denpasar-Singaraja. :”)

Semoga ga bosan dengan tulisan yang lebay ini. Terima kasih sudah mengikuti jalan ceritaku yang begini adanya. Kudoakan, semoga pembaca semua sehat selalu ya. Aamiin.





Singaraja, 14 November 2018
Presentasi Siklus ke sekian

With arek Suroboyo

Ngareng di tamkot Singaraja

Ngareng di Jalan Kenanga

Jembong waterfall


Belajar jutek, tapi malah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar