Ngareng ini
dilaksanakan rutin setiap Jumat malam. Di dalamnya kami adakan tilawah bersama,
sharing dan silaturahim. Waktunya sekitar pukul 19.15 WITA atau ba’da isya.
Tempatnya bergiliran, di Jalak Putih atau di tempat tinggal kami, Jalan
Kenanga. Di hari libur kemarin, kajian juga dilaksanakan di taman kota. Senang
rasanya, dikuatkan oleh para muslimah lain yang juga berjuang dan menjadi keluarga
di perantauan ini.
DI salah satu
pertemuan ngareng yang ku ikuti, seorang pembicara berkata bahwa hidup di pulau
dewata ini memang tidak mudah. Perlu usaha lebih untuk bisa tetap istiqomah
dalam kebaikan. Satu lagi yang kuingat betul dari kajian tersebut dikatakan
‘bisa jadi orang tuamu melepas kamu untuk menempuh pendidikan ini dengan berat
hati. Duh, Bali.”
Betul, bicara soal
merantau memang tidak mudah. Rasanya hidup jauh dari orang tua dalam waktu yang
relatif lama terlebih di beda pulau begini memang tidak mudah sama sekali. Demikain
pula denganku. Sempat terbersit rasa bosan hidup LDR-an terus dengan Ibu Apa
dan keluarga. Mulai dari kuliah 4 tahun, tinggal di pondok hampir setahun, dan
sekarang tambahan (kalau diizinkan sampai selesai) setahun untuk pendidikan
profesi ini. Tapi kembali lagi, semua ini sudah menjadi rencana-Nya, sang
Penata hidup terbaik. Menjalaninya dengan penuh rasa syukur diikuti sabar
adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan tahapan ini. Bismillaah..
Oya, kembali lagi ke
‘laporan bulanan’ hehe. Oktober ini selain diisi dengan siklus lanjutan dan
ngareng, ada juga jalan-jalannya. Alhamdulillaah, masih diberi kesempatan untuk
bertadabbur alam, menyadari betapa kecilnya diri ini dibanding megahnya gunung,
luasnya laut, indahnya langit, daaan banyak lagi ciptaan-Nya.
Jalan-jalan Oktober
ini kami (Kaliuntu girls plus dua putri Bali: Putu dan Mareta) kunjungi Air Terjun Jembong,
Ambengan. Lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Sekitar 20
menit dengan sepeda motor, sampai. Cocok untuk target jalan-jalan dadakan
seperti yang kami lakukan kemarin.
Di tempat ini, ada
beberapa kolam yang airnya bersumber dari air terjun jembong. Segaaaar. Ini
yang ku suka dari kolam renang di Singaraja. Dulu di kolam Alamandao (lihat
postingan sebelumnya), lokasinya di tengah-tengah hamparan sawah dan gunung,
airnya jernih, segar. Ini pun sama. Segar airnya benar-benar tidak membuat
rambut atau kulitmu rusak lho. Ditambah, pemandangannya yang juara dengan tiket
masuk super murah meriah. Kalau di di Alamandao Rp. 10.000 untuk bisa masuk,
maka di Jembong ini hanya perlu Rp. 5.000 untuk masuk ke area air terjun dan
5.000 juga untuk kolam renang dengan bebas penggunaan ban renang. Pilih salah
satu saja juga bisa. Bonus yang tak kalah menarik dari tempat ini ialah, kamu
bisa nikmati rindangnya pepohonan yang jika kebetulan duriannya sedang berbuah,
dijamin bikin kepingin. Hihihi.
Cerita lain di Oktober
ini ialah keharuan ditinggal mudik beberapa rekan ke kampung halamannya. Ada
yang ke Jogjakarta, Surabaya, Sidoarjo, Kediri, dan daerah lain di Jawa tengah
dan timur. Kenapa pulang? Rekan-rekanku mengikuti seleksi CPNS dan melaksanakan SKD di sana. Lalu, apakah aku juga akan pulang? Ah, entahlah. Masih
menunggu Sang Penentu menunjukkan lembar skenarionya lagi. Hehehe
Hei, ternyata tepat di
ujung Oktober kemarin rasanya aku bisa pulang. Tepat pada tanggal 31 Oktober
setelah pengumuman jadwal tes CPNS Kemenag Jabar sekitar pukul 20.30 WITA resmi
keluar. Dan tahukah teman? Fau harus pulang dan pesan tiket saat itu juga untuk
bisa pulang ke Jawa besok subuhnya. Memang, ikuti seleksi CPNS ini adalah
satu-satunya cara agar bisa izin pulang beberapa hari dari perkuliahan. Jadi,
setelah dinyatakan seleksi administrasi lolos dan bisa ikut tahap selanjutnya,
jelas aku katakana: ”Ya. Pulang!”
Cerita selanjutnya,
soal mendadak harus terbang saat belum lama sebuah maskapai penerbangan yang biasa juga
kupakai mengalami kecelakaan akan dibahas di laporan November ya. Maaf, laporan
Oktober ini telat publish karena laptopnya lelah (mungkin) diajak kesana-sini
Singaraja-Denpasar-Bandung-Sukabumi-Bandung-Denpasar-Singaraja. :”)
Semoga ga bosan dengan
tulisan yang lebay ini. Terima kasih sudah mengikuti jalan ceritaku yang begini
adanya. Kudoakan, semoga pembaca semua sehat selalu ya. Aamiin.
Singaraja, 14 November 2018
![]() |
| Presentasi Siklus ke sekian |
![]() |
| With arek Suroboyo |
![]() |
| Ngareng di tamkot Singaraja |
![]() |
| Ngareng di Jalan Kenanga |
![]() |
| Jembong waterfall |
![]() |
| Belajar jutek, tapi malah... |







Tidak ada komentar:
Posting Komentar