Jumat, 28 September 2018

Sebulan di Bali

Hai. Namaku Fauziah Anggraeni Dewi. Warga asli Indonesia yang lahir di tanah Sunda, Sukabumi Jawa Barat. Anak pertama dari dua orang istimewa yang kusebut Ibu Apa. Saat ini aku tinggal di salah satu pulau paling dikenal oleh warga dunia: Pulau Dewata, Bali.
Sudah sebulan lebih aku tinggal di Singaraja. Penuh drama dan kisah menakjubkan rasanya mengapa aku bisa sampai di sini. Ya, ini semua bermula dari Pendidikan Profesi Guru Prajabatan yang kujalani. Mulai dari tak ada bayangan sama sekali tentang apa itu PPG, tak satupun teman, tempat yang jauh dari tempat tinggal, lamanya masa Pendidikan, dan ketakutan lainnya adalah alasan mengapa semua ini begitu tak mungkin sebelumnya. Dengan beragam pertimbangan dari banyak pihak, ku mulai semuanya.
Pertama kalinya ku injakkan kaki di kota ini ialah pada 31 Juli 2018 lalu. Sudah banyak hal berharga yang kudapatkan di kota ‘yang kata salah satu dosenku’ adalah kota Pendidikan ini. Mulai dari teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia barat hingga timur dengan segala keunikan bahasanya, belajar hidup dengan saling menghargai perbedaan, belajar mensyukuri hidup, belajar menjadi manusia yang lebih manfaat dan berkualitas, ah banyak lagi yang tak bisa diungkapkan.
Sudah banyak juga momen berharga yang kulalui. Pertama kali tinggal di asrama Jineng Dalem, dengan fasilitas mirip-mirip hotelnya, hingga terpaksa harus pindah karena gempa 5 Agustus merusak bangunan-bangunan asrama. Setelah itu, aku tinggal bersama 5 teman lain di daerah Banyuning. Di Jalan Pulau Batam, Gang Murai tepatnya. Dan hari ini, rencananya kami akan pindah lagi ke sebuah rumah di daerah Kaliuntu, jalan Kenanga yang tak jauh dari FBS Undiksha.
Oya, berkaitan dengan momen menyenangkan selama sebulan di sini, aku telah banyak belajar bahasa daerah lain dan mengunjungi beberapa wilayah yang luar biasa indahnya di Bali. Pertama, jalan-jalan kami diawali dari menyewa angkot pak Ketut (disini dibilang bemo) menuju Buleleng Festival. Sesaat setelah sampai di festival, kami disambut oleh gempa yang cukup kuat, huhuhu.
Beberapa kali, aku juga mengunjungi Lovina Beach. Yang pertama, refreshing bersama kelima temanku setelah weekdays kami sibuk kuliah. Kedua kalinya, aku dan 5 temanku (Banyuning Girls) menjadi panitia HUT RI ke-73 mempersiapkan beragam lomba kerakyatan untuk PPG Prajabatan 3 (angkatan kami) di sana. Lalu, makan di KFC yang wow dengan modus kerjakan tugas sampai hampir tutup. Momen Iedul Adha di taman kota dan makan besar di Jalak Putih pun menjadi pelengkap momen indah kami di awal perjuangan ini.
Mempelajari beragam bahasa dan hidup Bersama orang-orang baru dari berbagai daerah adalah hal yang menakjubkan juga bagiku. Di sini, aku punya teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka putra-putri terbaik dari Magetan, Kebumen, Kediri, Malang, Sidoarjo, Yogyakarta, Surabaya, Kediri, Ponorogo, Bali, Ambon, Kupang, dan Alor. Ah, beruntung rasanya.
Semoga bulan lainnya akan terus menyenangkan dan berjalan lancar.
Bismillaah…

Singaraja, 1 September 2018



Lovina Beach for the first time. #aftertheearthquake

Lovina beach, for celebrating HUT NKRI 73

Nugas sampai malam

Silaturahim Iedul Adha



2 komentar: