Senin, 31 Desember 2018

Catatan Akhir Tahun


Desember, bulan penutup di masehi 2018 ini. Kalau harus disebut satu persatu tentu terlalu banyak nikmat yang sudah kudapat di tahun ini. Sebetulnya, ngapain sih capek-capek buat catetan begini setiap bulan? Alesannya simple, sekedar mengabadikan berbagai momen yang kulalui dalam hidup yang super ajaib ini. Biar nantinya jadi pengingat buat terus bersyukur. Syukur-syukur kalau bisa dibaca anak cucu nantinya bahwa neneknya pernah ngalamin hal-hal begini begitu di abad ini. Looh, apasih.

Banyak hal menyedihkan dan menakjubkan di tahun ini sudah tentu. Berpisah dari sekian banyak teman di Bandung karena harus tinggal di Bali adalah salah satu momen menyedihkan itu. Di sisi lain, hal ini juga menakjubkan. Saat tiba-tiba ku harus pindah tanpa ada satu teman pun yang ku kenal di pulau Bali, terbang sendiri untuk pertama kali, belajar bertahan hidup mandiri, ah banyak. Semua memang menegangkan tapi yang selalu bikin terharu, DIA Sang Penyayang selalu Tunjukkan kebaikannya di manapun, hingga akhirnya semua bisa kulalui dengan berjuta rasa kagumku akan rencana-Nya. Alhamdulillaah :’)

Memang belum ada pencapaian khusus yang kuraih di tahun ini, selain kenangan di hari guru 25 November lalu saat tiba-tiba adik tingkatku mengabari bahwa aku memperoleh penghargaan untuk speech terbaik di tingkat asrama putri pesantren tempat tinggalku sebelum pindah pulau. Wah, sampai lupa bulan apa tepatnya lomba tersebut berlangsung.

Tidak istimewa memang, tapi aku sangat ingat bagaimana para juri mengomentari penampilanku yang sangat seadanya menurutku kala itu. Di salah satu komentarnya seorang juri menekankan, bahwa belajar dan menguasai Bahasa Inggris itu penting bagi para santri, agar mereka bisa menyebar kebaikan dan ilmu pada lebih banyak orang melalui bahasa yang dipahami. Agar lebih komunikatif. Komentar ini yang memicuku untuk terus belajar, walau kutau Bahasa Inggris tidak seistimewa bahasa Arab dalam islam. Sudah, jangan bahas lagi pencapaian ya. Malu rasanya, belum bisa apa-apa di usia segini. Bismillaah semoga jadi diri yang lebih baik lagi.

Bulan ini terasa spesial, Karena seperti biasa ada rencana tak terduga yang terjadi. Tiba-tiba ada jadwal kampus yang berubah, sehingga bisa pulang dan libur di rumah, menghadiri nikahan sepupu, kasih kue untuk Ibu di hari spesialnya, berkumpul lengkap dengan keluarga, dan bertemu teman-teman semasa sekolah dulu. Alhamdulillaah lagi. Matur suksma (Terima kasih) juga Kak Mareta, sudah menjadi perantara aku bisa sampai ke Ubung dengan cepat waktu itu.

Berkaitan dengan suka duka di tahun 2018, rasanya tidak akan bisa lepas ingatanku pada beragam musibah dan bencana alam yang terjadi di sepanjang tahun ini. Dengan segala kerendahan hati, kudo’akan semoga jiwa yang telah lebih dahulu meninggalkan kehidupan dunia mendapat tempat istimewa di sisiNya. Aamiin.

Tahun 2018 ini mengajariku dan teman-teman perantau lain untuk lebih mensyukuri hidup dan kuat menghadapi segala kemungkinan. Bagaimana tidak, belum seminggu kami tinggal di pulau dewata gempa terjadi di pulau Lombok dengan kuatnya. Pulau Bali yang bisa dikatakan tidak terlalu jauh dari titik gempa sudah tentu merasakan betul getarannya. Kepanikan terjadi dimana-mana. Bangunan asrama runtuh, kerusakan berbagai fasilitas belajar, beberapa orang terluka, dan yang sulit adalah ketika trauma menyerang beberapa rekan. Tidur bukan lagi hal yang menenangkan kala itu. Agustus kami habiskan dengan rasa waswas karena gempa susulan masih sering kami rasakan.

Selain di Lombok, gempa juga terjadi di kota Palu dan Donggala sebulan setelahnya. Disusul tsunami dan fenomena likuifasi, menjadikan begitu banyak korban jiwa berjatuhan. Sungguh keadaan yang sangat menyedihkan, menegangkan. Lagi, dapat dipastikan keluarga di rumah sangat mengkhawatirkan kami di perantauan beda pulau ini.

Belum sembuh duka Indonesia atas terjadinya gempa Lombok dan Palu Donggala, sebuah pesawat dikabarkan hilang dan akhirnya didapati serpihannya di perairan Karawang pada bulan Oktober. Lagi-lagi, ini membuatku yang baru mencoba ‘terbang’ merasa sedih dan takut. Pembaca pasti tahu kenapa. Selain itu, Desember juga memiliki luka di akhir tahun ini. Tsunami tiba-tiba menghantam pesisir Selat Sunda. Sedih, karena lagi-lagi korban banyak berjatuhan. Tapi yang pasti, dari semua kejadian ini sesungguhnya aku telah diingatkan untuk selalu menjadi manusia yang terus memperbaiki diri dan siap saat kapan pun maut menjemput.  

Membahas banyak kesedihan di tahun ini bukan dimaksudkan untuk membuka luka lama, hanya saja untuk dijadikan sebuah pengingat bagi penulis agar terus memperbaiki diri dalam hal apa pun. Karena sejatinya, semua ada akhirnya. Semua kan ada balasnya. Terima kasih sudah setia membaca catatan bulananku yang tidak terlalu penting ini. Semoga kita menjadi sosok yang lebih baik di tahun-tahun mendatang. Aamiin.

Dan seperti biasa, silakan komen/beri saran untuk penulisan selanjutnya baiknya selain laporan mending tentang apa yaaaaa. See you.



Bukan siapa-siapa,

@fauziahdewia

*Semoga 2019 bisa konsisten upload video informatif di channel Fauziah Anggraeni Dewi
Bantu subscribe ya, hehehehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar