Senin, 08 April 2019

Maret Greget




Bismillaah, pagi ini tanggal 29 Maret di perpustakaan FOURSMA, jam 11.11 Waktu Indonesia Tengah kumulai menuliskan cerita bulan ini. Terlalu banyak yang melekat dan manis untuk diingat tapi mari kita coba tuangkan di lembaran singkat ini.

Baru saja, aku menumpahkan sedikit kisah sedihku pada salah satu teman terbaik yang ditakdirkan kutemui di pulau indah, Bali ini. Bukan kisah sedih sih, lebih ke kisah menakjubkan yang memberi pelajaran tak terlupakan di masa kecilku. Kami baru saja berbagi kisah dan saling menguatkan, ternyata kami sama-sama punya rasa sakit yang kurang lebih sama. Bedanya, aku telah mengalaminya dengan sangat rapuh kala itu, dan dia sahabat hebatku ini tengah melalui kisah itu dengan sangat hebat saat ini. Terkesan lebay, tapi kami benar-benar saling tertawa dengan linangan air mata. Aku takjub dengan keceriaan, ketegaran, dan kehebatannya menjalani semua yang ada di hidupnya. Jika dibanding dengan kisahku, walau sama-sama pahit dan menyakitkan, kisahku rasanya tidak seburuk kisahnya.  Aku semakin sedih dan malu, aku lemah dan merasa permasalahanku paling berat. Aku merasa kadang hidup terlalu kejam memusuhiku, tapi ternyata salah.

Dari percakapanku dengannya tadi, kudapati banyak sekali temparan keras untukku, untuk hidupku. Aku merasa sangat tidak mensyukuri hidup yang jika dibanding banyak orang mungkin kesulitan didalamnya tidak ada apa-apanya. Aku merasa bahwa aku, manusia banyak salah ini sangat menyia-nyiakan banyak waktu dengan hal tidak penting saat banyak orang berjuang keras untuk menemukan waktu rehat dari kesibukan yang menjerat. Bukan karena mereka suka, tapi karena mereka perlu dan harus melakukannya. Belum lagi, kebiasaanku mengeluh yang rasanya menyebalkan sekali, padahal jauh lebih banyak orang yang bahkan bebannya sangat pelik untuk dijelaskan. Dan yang paling menampar, aku sangat belajar betapa indahnya, betapa hebatnya orang yang dengan segudang masalah, setumpuk persoalan, sederet tanggungjawab dan kesulitan bisa begitu ringan membuat banyak orang lain merasa lebih baik dengan kehadirannya. Begitu peduli pada orang lain, peka pada semuanya. Dengan kebaikannya, semangatnya, kasih sayangnya, cerianya, ia bisa membuat semuanya seperti biasa saja, tanpa masalah dan malah lebih indah. Baiklah, mari belajar introspeksi diri dan bersyukur lebih keras.

Hari ini memang hebat. Setelah di sekolah berbagi cerita dan saling menguatkan, sorenya aku mendapat kembali pelajaran yang tak kalah mengharukan. Seperti bulan-bulan sebelumnya, Ngaji Bareng (Ngareng) memang sudah menjadi agenda mingguan kami para muslimah PPG selama menempuh pendidikan ini. Hari itu pembicara di kajian mengucap banyak pernyataan yang seakan menukik sekali pada hatiku, hinggap di pikiranku dan membuatku semakin malu akan diriku yang begitu. Salah satu dari banyak perkataan yang diucapkannya ialah kurang lebih begini, “Jangan mengira, kalian semua bisa belajar di Singaraja ini hanya karena kebetulan ditempatkan oleh pemerintah. Tidak sesederhana itu. Pasti ada Rencana-Nya di balik ini semua. Kenapa kalian bisa ada di Singaraja, bertemu satu sama lain, ikut kajian ini, dan banyak lagi.”

Lalu, aku benar-benar merenungi kata-kata ini. Betul sekali, tidak mungkin dari sekian banyak proses yang dilalui, rintangan yang mengiringi, pengalaman yang didapati hanyalah sebuah kebetulan yang melemparku sejauh ini. Dari Jawa Barat, ke pulau Dewata sendiri. Aku benar-benar mulai menemukannya kali ini. Sebelumnya, aku tidak pernah merasa ada yang sangat spesial dengan keislamanku. Hanya sebatas mensyukuri nikmat islamku, berterima kasih pada-Nya karena telah menjadikanku muslim sejak lahir. Itu saja. Tapi kini, aku menghayatinya lebih dari sekedar itu. Aku jauh lebih mencintai agamaku di pulau yang memiliki tingkat toleransi tinggi ini. Jika di Jawa aku tidak merasa takjub saat melihat banyak orang beribadah, karena kupikir ya sudah, memang harus ibadah dan semua orang melakukannya. Tapi di pulau ini lain. Aku merasa sangat beruntung dan terharu ketika bisa beribadah tepat waktu, mengikuti sholat berjamaah walau hanya dengan segelintir orang, mendapati muslim lain melaksanakan ibadah dengan khusyuk di tengah hiruk pikuk kesibukan kota. Semuanya terasa lain jika dibanding dengan suasana serupa di pulau Jawa. Dan mungkin, kalau aku tak tinggal di perantauan ini aku tidak akan dapat menyadari betapa beruntungnya aku.

Di perantauan ini, sungguh banyak hal yang lebih membuka mataku tentang arti syukur, kuat, bijaksana dan ikhlas.  Aku lebih banyak merasa diriku sungguh seorang makhluk lemah tetapi sombong karena tidak mensyukuri sekian banyak kenikmatan yang telah dititipkan-Nya padaku. Kurang bersyukur. Dan soal bijaksana, dengan merantau ini aku merasa bahwa hidup yang kujalani ini haruslah sangat bisa kuatur dengan baik. Mulai dari apa yang kukerjakan, waktu yang kuhabiskan, uang yang kupakai, kesempatan yang ada, semuanya harus bisa kuatur dengan bijak. Walau ini bukan kali pertama aku merantau, tapi keadaan berbeda dengan segala keunikan pulau ini membuatku merasa harus lebih mampu mengatur hidupku lebih baik dibanding perantauanku di Bandung dulu. Dan tentunya, ikhlas juga poin penting yang sangat kuresapi maknanya kali ini. Aku mulai berpikir, apa ya yang sudah kuperbuat untuk menyenangkan orang lain? Kenapa ya aku tidak bisa sebaik mereka dalam menolong? Bagaimana caraku berbuat, apa tujuannya? Untuk dibalas kebaikan juga kah? Seperti apa aku memahami kesulitan orang sekitarku? Ah, banyak sekali rasanya pelajaran ikhlas ini yang kuharap semakin hari aku semakin mampu memahami dan menerapkannya dengan baik.

Oya, Maret menjadi bulan greget dengan segala kisahnya. Walau di akhir-akhir bulan banyak kisah mengharukan (tapi bukan karena urusan finansial ya, wkwkwk), Maret juga punya cerita lainnya. Tanggal 1 misalnya, kisah bulan ini dimulai saat Kenanga Girls (KG) tiba-tiba merencanakan pergi keluar untuk sekedar melepas penat setelah seminggu di sekolah. Mengunjungi sebuah tempat makan yang sejuk dengan pemandangan memukau di sebuah puncak di Singaraja adalah tujuannya. Tanpa perlawanan, aku ikut. Tentu saja ajakan dan hobi KG mengeksplor berbagai wilayah di perantauan ini adalah berkah bagiku. Mengapa? Ya, bagi aku yang tak berbekal kendaraan dari rumah, memiliki teman seperti mereka benar-benar rezeki yang teramat besar yang dititipkan ibuku melalui doanya, agar ku selalu dikelilingi orang baik dan berbagai kemudahan.

Setiba di tempat tujuan, kami semua terpesona. Aku takjub melihat pemandangan dari atas puncak ini. Pepohonan menjulang sepanjang jalan yang kami lalui terlihat mungil. Kelip lampu dari hamparan pemukiman terlihat seperti taburan bintang di pekatnya malam. Karena kami pergi ke tempat ini saat matahari mulai tenggelam, jadi kami bisa menikmati suasana sore yang terang dan gelapnya kota SIngaraja dari puncak.  Cantik. Tidak cukup dengan pemandangan yang menakjubkan, ternyata sebuah surprise telah disiapkan untukku dan salah satu temanku yang berulang tahun di Februari. Terlambat dan memang sengaja sepertinya, wkwkwk. Aku terharu, senang sekaligus sedih karena makin banyak kenangan indah terjadi di kota ini maka semakin berat meninggalkan kota ini nantinya. Aku hanya bisa berterimakasih pada semua KG (Cuma 6 orang, termasuk aku padahal). Kami saling terharu juga karena menyadari bahwa waktu begitu cepat berlari. Awal Agustus kami masih tidak saling kenal, hingga akhirnya kini sudah Mei dan hampir tiba waktunya kembali ke rumah.

Selain itu, Maret juga hebat karena ada perayaan Hari Raya Nyepi. Bagiku pribadi, bisa mengalami dan menyaksikan langsung suasana Nyepi di tanah Bali ini adalah pengalaman yang tidak mungkin kulupakan. Sehari sebelum Nyepi, sekolah libur karena ada upacara pengerupukan dan arak-arakan Ogoh-ogoh di sore harinya. Ramai dan meriah sekali. Keren. (Tunggu videonya di channel YouTube Fauziah Anggraeni Dewi ya Hehehe). Di hari Nyepi, suasana Bali benar-benar lengang. Tidak ada kendaraan, toko-toko tutup, ATM tidak berfungsi, jalanan sepi, tidak ada cahaya lampu, koneksi internet terputus. Aku dan KG lain benar-benar menghindari saling bertemu dan mengobrol karena khawatir gelak tawa bisa mengundang pecalang (polisi adat Bali) menuju rumah kami. Sehari setelah Nyepi pun masih libur, karena masih dalam rangkaian Nyepi yang disebut dengan hari Ngambak Geni. Jadi, seperti kebanyakan orang bilang BALI memang BAnyak LIbur. Alhamdulillaah… Hehehe.

Masih belum habis, momen yang sangat berkesan di bulan Maret ini memang greget. Karena dalam suasana libur Nyepi, kami yang non-Hindu mendapat waktu libur yang cukup lama. Seperti biasa, prinsip KG yang memanfaatkan waktu untuk explore Bali selagi ada kesempatan akhirnya membuahkan sebuah rencana. Rencana yang tak kuketahui juga, tiba-tiba sebelum berangkat mereka mengajakku ikut dan seperti biasanya, aku tidak punya alasan untuk menolak. Dan, ternyata kali ini perjalanannya bukanlah yang singkat seperti sebelumnya. Kami mengunjungi sebuah taman di kawasan Karangasem. Hmmmm, sekitar 3 jam aku duduk manis dibonceng teman sekamarku. Untungnya, pemandangan di tempat tujuan dan sepanjang perjalanan memang sangat memanjakan mata. Dengan tiket hanya 15.000 saja, kalian sudah bisa bebas bermain di taman luas ini. Jadi, lelah di jalan serasa terbayar lunas. Lengkapnya, segera dibuat juga video tentang taman ini deh. Tunggu ya.

Segitu dulu ya catatan gregetnya. Sudah masuk April, dan pulang ke Jabar semakin dekat.

Doakan aku lulus ujian PPG dengan hasil baik dan Mei bisa pulang ya. See you.
Pemandangan menuju Taman Ujung Karangasem

Pemandangan menuju Taman Ujung Karangasem

Spot foto unik di Taman Ujung Karangasem

Sabtu, 16 Maret 2019

Februari wis mari



Helloooo. So sorry for being too late to write. Pie kabare?

Februari wis mari (udah selesai). Baru sempat terusin laporannya setelah pertengahan Maret begini. Seperti biasa, catatan ini ditulis hanya atas dasar hobi dan berharap memberi manfaat bagi penulis pribadi agar selalu bersyukur telah memiliki kisah hidup yang sedemikian ajaib ini.

Mari kita mulai.

Februari, menjadi bulan yang menggenapkan PPLku menjadi sebulan di tanggal 17nya. Menjadi penggenap usiaku juga di tanggal 18nya. Sedih, karena ini bukan kali pertama tanggal 18 di beda kota. Haru, bersyukur atas semua yang sudah DIA anugerahkan dalam hidupku yang singkat ini.

Berkaitan dengan sebulan PPL, jelas banyak sekali pelajaran yang kudapati dari sekolah tempatku praktik ini. Bukan hanya tentang bagaimana meneladani para guru dalam mengajar, tapi aku belajar betul bagaimana banyak orang bisa sebegitu hebat menyembunyikan berbagai persoalan rumit dibalik senyumnya, bagaimana seorang menjadi hebat setelah melewati berbagai masalah, dan baanyak lagi. Dan soal pertambahan angka usia, terima kasih banyak untuk doa dan ucapannya teman semua. Semoga kebaikannya kembali pada yang mendoakan.

Tidak seperti di semester lalu, PPG di semester akhir ini benar-benar mengerahkan kami untuk belajar langsung di sekolah. Belajar bagaimana menjadi seorang guru profesional dengan segala tanggungjawab dan tugas-tugasnya yang super padat. Jadi ingat kata temanku, “Kalau ada yang bilang jadi guru itu enak, sini liatin tumpukan tugas kita.”

But, sesibuk apapun dan sebanyak apapun tuntutan yang harus kita penuhi bukan berarti kita tidak bisa menikmati hidup. As my Daddy said: “Ulah dianggap beban, enjoy we. Tapi ulah hilap oge tujuan akhirna.” (Jangan dianggap beban, enjoy aja. Tapi jangan lupa juga tujuan akhirnya). Siap, laksanakan. Berkaitan dengan kata Apaku ini, lagi-lagi Sang Penyayang memberiku kesempatan untuk menikmati indahnya pulau Bali melalui segala kekayaan alamnya.

Tidak perlu jauh, di pertengahan Februari aku dan kawanan KG (baca di notes awal) bisa mengunjungi sebuah lokasi menyejukkan bernama Alam Sambangan (Video ada di channel FAUZIAH ANGGRAENI DEWI ya). Murah meriah sudah pasti. Cocok untuk mahasiswa perantau lah, hehehe. Kolam renang yang langsung menghadap ke rindangnya pepohonan, beberapa wahana permainan dan spot foto serta bangunan sekitar kolam yang cukup unik menjadi fasilitas keren untuk menghilangkan penatmu saat lelah. Di akhir bulannya, rutinitas Kajian bersama (Ngareng) berjalan seperti bulan-bulan sebelumnya. Alhamdulillaah…

Pejuang PPL, Para Pingitan Negara


Jumat, 01 Februari 2019

Panenjoan Geopark Ciletuh, Curug Cikaso, CGK, DPS, Kwarcab dan SMA di Januariku

Januari, dimulai dari hari yang sangat menyenangkan kala itu. Tidak istimewa dan mahal memang. Tapi, menghabiskan waktu seharian dengan orang-orang tersayang di tempat yang belum pernah dikunjungi bersama memang tak bisa dipungkiri amat menyenangkan. Sebelum kembali ke pulau perantauanku, mengunjungi Panenjoan Geopark dan indahnya Curug Cikaso (wisata super murah, gambar ada di Instagram @fauziahdewia) adalah agenda yang aku dan keluarga lakukan di musim libur awal tahun. Jeda libur yang tak terduga seperti sudah kuceritakan di laporan Desember kemarin jelas kumanfaatkan.
Hal memorable lainnya di Januari adalah kegiatan KMD Pramuka di Kwarcab Buleleng. Program ini memang diwajibkan bagi para mahasiswa PPG sebelum melaksanakan PPL. Lagi, aku dipertemukan dengan banyak orang hebat yang menginspirasi. Belajar hidup dalam kerjasama yang baik, toleransi dan saling menghargai, saling bantu, saling jaga, saling dukung dan menguatkan. Oya, di KMD ini pula ada kejadian yang sedikit menggelitik, kok aneh ya rasanya. Yaa, di perkemahan 5 hari itu pada malam terakhir kami adakan kreasi seni setelah prosesi api unggun. Penampilan tiap kelompok yang memang hanya ada 3 telah usai. Tiba-tiba peserta diinstruksikan untuk kumpul berdasarkan daerah asal masing-masing dan berrembug tentukan penampilan khas daerah masing-masing. Ada 6 orang dari Nusa Tenggara Timur, 8 orang Jawa Timur, ada Ambon, dan Bali. Sedihnya, Jawa Barat hanya aku sendiri. Jadi, jelas lah ku tak bisa diskusi dengan siapa pun untuk tentukan penampilan apa. Dan surprisenya lagi, salah satu pelatih memanggil Jawa Barat sebagai yang pertama tampil. Sebagai bentuk apresiasi katanya, WOW. Tanpa persiapan, maju dan bingung harus tampilkan apa. Akhirnya kuputuskan buka video karaoke Manuk Dadali. Selesai sudah.
KMD usai, lanjut ke cerita PPLku.
Workshop dan KMD  telah berlalu, masuk ke semester baru di tahun ajaran baru. Ada tantangan baru juga yang harus kuselesaikan. Masa PPL (Program Pengalaman Lapangan) yang akan berlangsung selama kurang lebih 4 bulan. Dimulai tanggal 17 Januari, diakhiri 17 Mei nanti. Bismillaah, doa dan niat bersungguh-sungguh semoga menjadi penguat saat semangat mulai memudar.
Tidak seperti PPL di S1 dulu, kali ini aku lebih banyak belajar bahwa ternyata PPL itu harus begini, begitu, buat laporan ini, buat laporan itu, lewati tahap ini dan itu, bertemu peserta didik yang ini dan itu, guru pamong yang ini, dosen pembimbing yang itu, dan kesemuanya jelas berbeda karena ada di Pulau Bali. Lagi-lagi, hanya doa dan usaha maksimal yang bisa kulakukan untuk melalui ini semua.
Di catatan ini, aku akan coba tuliskan (InsyaAllah, kalau sempat) kejadian di setiap hari yang ku lalui di SMAN 4 Singaraja tempatku mengaplikasikan ilmu yang ku dapat selama workshop PPG semester lalu. Yuk mulai.
17 Januari 2019
Hari penyerahan peserta PPL dari pihak kampus ke Kepala Sekolah. Surprise. Ternyata setelah acara penyerahan di kampus usai, kami langsung diminta mengunjungi sekoah masing-masing. Surprise lagi, aku langsung mendapat guru pamong senior dan ikut ke kelasnya mengajar di dua kelas, saat teman-temanku di sekolah lain hanya datang ke sekolah lalu pulang kembali. Okay, lebih dulu dapat banyak ilmu. Hehehe.
Di hari pertama itu, aku diperkenalkan langsung ke kelas XI BB 1 dan XII MIPA 6 di jam 3-4 dan 5-6. Di antara para peserta didik mengerjakan tugas dan diskusi, aku banyak menggali informasi dari pamongku yang belakangan kutahu dari orang-orang di sekolah bahwa beliau seorang wanita yang disegani oleh warga sekolah. Waaah, keren.
18 Januari 2019
Masih melanjutkan aktivitas hari pertama, di hari kedua pun aku masih dalam tahap observasi di sekolah. Bertemu kembali bu Ni Ketut Namiasih, seorang wanita hebat yang dipercaya menjadi pamongku di SMAN 4 Singaraja ini. Beliau orang yang berdedikasi tinggi, ingin terus belajar, komunikatif, sangat peduli pada aku yang bukan siapa-siapa. Hanya seorang mahasiswi yang butuh banyak belajar darinya ini.  Di hari kedua ini, aku mendapat berbagai tugas untuk kuselesaikan lebih awal sesuai tagihan kampus, saran dan ide dari bu pamong, dan jadwal mengajar, yang akhirnya diputuskan aku mendapat 3 kelas XI IPA. Semoga semua mudah, bismillaah..
21-31 Januari
Ternyata, ku tak bisa tuliskan semua aktivitas perhari. Jadwal tak selonggar yang ku kira, hehehe. Hampir setiap hari ku bertemu dan konsultasi pada pamongku untuk berbagai kegiatan dan pembelajaran yang akan kujalani selama dipercaya menemani 3 kelas untuk belajar. Waktu terasa cepat sekali berlalu jadinya.
Hari ketiga sampai akhir Januari ini aku banyak mengenal orang baru di sekolah. Mulai dari bagian Tata Usaha, Kepegawaian, Bimbingan Konseling, Guru-guru, teman PPL real dari S1, dan para peserta didik di luar kelasku mengajar. Mengagumi betapa indahnya kebersamaan dalam keanekaragaman di Indonesia. Di bagian ini pula, banyak ku temukan cerita mengapa begitu banyak orang yang ikhlas menjadi guru walau banyak dan sulit rintangan yang harus mereka lalui.
Di laporan bulananku selanjutnya, sepertinya masih akan kuceritakan seputar kegiatanku selama PPL. Tidak rinci, tapi hal-hal yang kurasa penting untuk diingat di kemudian hari akan ku tulis, biar ingat dan bisa diambil hikmahnya.
Menuju akhir, bismillaah…