Menyambung catatan bulan
lalu. Tepat tanggal 1 November kemarin aku pulang, melintasi beberapa provinsi
melalui udara. Jangan ditanya bagaimana takutnya aku. Yaa, terbang sendiri
setelah belum lama sebuah maskapai penerbangan alami kecelakaan dengan korban
jiwa yang tidak sedikit. Hmmm, it really
hurts actually.
Tapi bagaimana lagi.
Hidup jauh dari orang tua semenjak mulai kuliah S1 di Bandung sudah mengajariku
banyak hal soal berani. Bukan kali pertama aku pergi jauh sendirian. Lagi pula,
ini penerbangan kedua setelah pertama terbang ke pulau seribu pura ini. Jadi,
bismillaah lagi-lagi hanya kuandalkan Dia dalam perjalanan kali ini.
Oya, niat pulang ini
benar-benar dilatari oleh sepinya Singaraja karena teman-teman pulang untuk
mengikuti SKD CPNS di daerah masing-masing. Jadi, saat namaku dinyatakan lolos
tahap administrasi, otomatis aku jadikan seleksi ini alasan untuk pulang. Sudah
rindu juga orangtua dan keluarga rasanya. Bagaimana tidak, setelah dinyatakan
bahwa aku menjadi salah satu peserta PPG yang ditempatkan di UNDIKSHA Singaraja
yang super mendadak, aku belum sempat menemui keluarga. Untungnya, Ibu Apa ke
Bandung dan sempat mengantar ke bandara kala itu. Sungguh perpisahan yang
tragis bukan? Hmmm.
Baiklah, kembali ke
laporan. Singkatnya, di perjalanan super dadakan ini dilengkapi dengan berbagai
pertolongan-Nya melalui banyak orang baik di sekitarku. Dari mulai rencana
pulang berangkat sendiri ke bandara di Bali Selatan, tiba-tiba ada teman yang
juga hendak pulang ke Lombok menyertai. Sampai waktu penerbangan tiba pun teman
shaleha ini masih menunggui, MaasyaAllaah.
Tiba di Bandung, tidak
bisa dihitung pula kebaikan dari sahabat-sahabat semua. Terlebih kebaikan salah
satu rekan asramaku, teh Fitri mojang Lembang baik hati yang sudah bersedia
menampungku untuk melaksanakan tes kala itu. Dilengkapi oleh rekan-rekan
sekamarku di asrama dulu, perjalanan kemarin sungguh berkesan. Terima kasiih. Selesai
seleksi, tujuan yang sesungguhnya adalah pulang ke rumah. Yaa, aku bukan warga
Bandung, hanya penduduk biasa yang belajar di Bandung. Rumahku ada di Sukabumi,
kabupaten tepatnya. Jaraknya dari Bandung sangatlah tidak bisa dikatakan dekat.
Kalau ada waktu, coba deh search kecamatan Waluran atau Jampangkulon di maps. You’ll know how far it is. Jadi, pulang kali ini adalah
sebenar-benar perjuangan berat buatku.
Seperti lagu Endang
Soekamti yang menyatakan “datang akan
pergi, lewat ‘kan berlalu, ada kan tiada, bertemu akan berpisah.” Waktu
izin telah berakhir. All I have to do is
kembali ke pulau dewata sebelum banyak tertinggal. Berat rasanya. Sedari dulu
aku tidak pandai membendung tangis saat harus pergi ke Bandung setelah lama di
rumah. Dan sekarang? Hmmm, jangan lagi ditanya. Harus pergi setelah hanya
beberapa hari bertemu dan berkumpul dengan beberapa orang di kampung halaman.
Sesak. Nangis sudah jelas.
Waktu tempuh dari
rumahku menuju bandara di Bandung itu sekitar 6-7 jam (jika tanpa macet). Lalu,
dari bandara Bandung ke Denpasar perjalanan menghabiskan waktu sekitar 2 jam
(belum delaynya). Dan, dari bandara
Denpasar di Bali selatan menuju tempat tinggalku di Bali utara membutuhkan
waktu tempuh sebanyak kurang lebih 2,5 jam jika dengan sepeda motor. Jadi, bisa
dibayangkan harus jam berapa aku terbang agar tidak sampai terlalu sore di
Denpasar?
Di sini, pertolongan-Nya
hadir menakjubkan lagi. Dengan kebaikan hatinya, teh Asti salah satu temanku di
daerah Buah Batu memperbolehkanku singgah di rumah saudaranya. Di Bandung kala
itu hujan. Ia menungguiku yang terjebak jahatnya macet dengan dua payung di
tangannya. Padahal, dia harus berjalan jauh dari rumah saudaranya itu. Sudah
dijemput, basah-basahan dengan jalan kaki, ia sediakan makan malam pula. Besoknya sebelum berangkat pun, sarapan
disediakan. Padahal dia harus berangkat kuliah sangat pagi. Yaa Allaah. Terima
kasih teh.
Pagi, sekitar pukul
08.00 WIB aku menuju bandara Husein Sastranegara Bandung diantar driver online
yang praktis mengurangi beban seorang yang harus pergi sendiri tanpa tahu jalan
sepertiku. Hehehe. Tiba di bandara,
apakah sedih? Yaa. Banyak orang yang diantar oleh orang tua, keluarga, dan
rekan-rekan untuk pergi. Aku? Sendiri. Sampai-sampai seorang Ibu yang hendak
mengantar anak lelakinya bertanya, “Neng sendirian?” Kubalas dengan anggukan
dan senyum. Sebetulnya ada beberapa rekan yang meminta untuk bisa antar ke
bandara, tapi rencana keberangkatanku tidak kukabarkan pada mereka. Aku tau,
mereka akan repot kalau harus ke bandara, hanya untuk mengantar. Rasanya doa mereka
pun sudah cukup dan memang itu yang terpenting.
Waktu penerbangan
tiba. Alhamdulillaah, atas izin-Nya dan doa dari segenap keluarga dan teman aku
landing dengan selamat. Kebaikan-Nya kembali hadir setelah sekitar pukul 14.00
aku tiba di I Gusti Ngurah Rai airport. Teman sekamarku Firsty menawari untuk
pulang bersama. Sungguh, ku terharu. Setelah makan bersama di daerah Kerobokan,
kami menempuh perjalanan ke Bali Utara melawan panasnya Denpasar dan dinginnya
Bedugul. Alhamdulillaah, lancar selamat.
Well, ku kembali
menjalani rutinitas di pulau dewata. Setelah ditinggal pulang, rasanya semakin
panas suhu di sini. Jika di Lembang suhunya 17°C, maka di SIngaraja bisa sampai
34°C. Benar kata temanku, mungkin ini salah satu tanda untukku agar bersyukur
bisa menjadi warga Jawa Barat dengan suhu ademnya. Alhamdulillaah…
Di rutinitas November
ini, siklus kuliah berjalan seperti biasa. Cerita berkesannya adalah, aku dan
teman-teman lain bisa menyaksikan sebuah event kreasi mahasiswa Fakultas Bahasa
dan Seni dengan suguhan seni yang luar biasa keren. Bulan ini juga dilengkapi
dengan hadirnya seorang praktisi pendidikan bernama Adrian Rodgers. Kami
belajar dan bermain bersama para dosen dalam sebuah kelompok. Seruu. Selain
itu, aku juga menghabiskan waktu dengan hal-hal gila tapi menyenangkan (sambung
lagu, truth or dare, bercanda, berburu durian, curhat ekstra, dan banyak hal
lainnya) bersama teman-temanku. Alhamdulillaah. Semua membuat kami lebih
mengerti bagaimana indahnya berteman, bagaimana memahami sikap setiap orang.
Oya, berkaitan dengan
durian, banyak yang tanya di snapgram ko bisa murah? Yaa, bagaimana tidak,
harganya mulai dari 5.000 saja loh. Entah bagaimana, di Singaraja harga buah
memang relatif murah. Asal yang lokal, berasal dari penduduk asli sini. Selain
durian, ada lagi buah yang mudah ditemukan di sini, yaitu anggur. Sahabatku
yang asli Bali, Negara tepatnya terakhir membawakan oleh-oleh untuk kami anggur
segar yang dibelinya hanya dengan 15.000 rupiah untuk 2kg. Dan adik tingkatku
yang sudah lebih dulu tinggal di Singaraja menambahkan, bahkan harga anggur
segar bisa hanya 5.000 rupiah/kg. Wow kan? Jadi, jangan ragu untuk main ke Bali
Utara ya. Kekayaan alamnya ga kalah ko dengan daerah Bali lainnya. J
Ternyata masih ada
lagi momen yang tak mungkin aku lupakan di November ini. Betapa tidak, seperti
sebelum-sebelumnya aku dan teman-teman tanpa banyak merencanakan bisa kembali
mengeksplor indahnya pulau dewata ini. Pada 24 November, aku dan teman-teman
membentuk kesebelasan untuk mengunjungi kawasan wisata Gili Putih, di Desa
Sumberkima Kecamatan Gerokgak.
Gili Putih merupakan
sebuah destinasi pantai baru di Bali Utara, dimana tujuan utamanya ialah sebuah
pulau berupa gundukan pasir putih yang cantik. Untuk menuju pulau ini, para
pengunjung dapat menggunakan perahu mesin nelayan yang banyak ditawarkan di
sana. Dengan harga 300.000,- rupiah untuk menuju dan kembali dari pulau, para
pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan yang menakjubkan. Air laut yang
jernih, pasir putih dan hewan-hewan yang jelas terlihat di bawah beningnya permukaan
air, ada juga keramba apung tempat budidaya perikanan, udara segar, ah tidak
rugi rasanya. Untuk mahasiswa dan para nekat travelers, jangan khawatir harga
ini bisa dibagi banyak orang. Aku pun membaginya untuk sebelas orang. Hehehe,
hemat kan?
Belum selesai,
November ini dilengkapi juga dengan kajian rutin di Ngareng, akhir peerteaching, hujan kedua setelah 4 bulan tinggal,
dan adanya festival Jepang yang diadakan salah satu jurusan di kampusku. Momen
lainnya terlalu panjang jika dijelaskan. Beberapa view Gili Putih dan wisata
alam Bali murah meriah lainnya ada di channel YOUTUBE Fauziah Anggraeni Dewi ya. Silakan klik dan subscribe, *eeeh.
Semua kisah ini,
adalah untuk diingat dan disyukuri setiap harinya. Memang, bagiku semuanya
bikin baper, tapi belum tentu buat readers
semua, hehehe. Sedihnya perpisahan, hebatnya orang tua, harunya pertemanan,
nikmatnya berjuang, semua kalau dibaperin ya baper. Tapi, siapa suruh sedih?
Siapa suruh baper? Jadi, stay strong!
See you in the end of December.
Terima kasih lagi
sudah mampir, boleh komen dan kasih masukan ya. :)
Temanmu,
Fauziah Anggraeni Dewi






