Jumat, 30 November 2018

November Baper


Menyambung catatan bulan lalu. Tepat tanggal 1 November kemarin aku pulang, melintasi beberapa provinsi melalui udara. Jangan ditanya bagaimana takutnya aku. Yaa, terbang sendiri setelah belum lama sebuah maskapai penerbangan alami kecelakaan dengan korban jiwa yang tidak sedikit. Hmmm, it really hurts actually.

Tapi bagaimana lagi. Hidup jauh dari orang tua semenjak mulai kuliah S1 di Bandung sudah mengajariku banyak hal soal berani. Bukan kali pertama aku pergi jauh sendirian. Lagi pula, ini penerbangan kedua setelah pertama terbang ke pulau seribu pura ini. Jadi, bismillaah lagi-lagi hanya kuandalkan Dia dalam perjalanan kali ini.

Oya, niat pulang ini benar-benar dilatari oleh sepinya Singaraja karena teman-teman pulang untuk mengikuti SKD CPNS di daerah masing-masing. Jadi, saat namaku dinyatakan lolos tahap administrasi, otomatis aku jadikan seleksi ini alasan untuk pulang. Sudah rindu juga orangtua dan keluarga rasanya. Bagaimana tidak, setelah dinyatakan bahwa aku menjadi salah satu peserta PPG yang ditempatkan di UNDIKSHA Singaraja yang super mendadak, aku belum sempat menemui keluarga. Untungnya, Ibu Apa ke Bandung dan sempat mengantar ke bandara kala itu. Sungguh perpisahan yang tragis bukan? Hmmm.

Baiklah, kembali ke laporan. Singkatnya, di perjalanan super dadakan ini dilengkapi dengan berbagai pertolongan-Nya melalui banyak orang baik di sekitarku. Dari mulai rencana pulang berangkat sendiri ke bandara di Bali Selatan, tiba-tiba ada teman yang juga hendak pulang ke Lombok menyertai. Sampai waktu penerbangan tiba pun teman shaleha ini masih menunggui, MaasyaAllaah.

Tiba di Bandung, tidak bisa dihitung pula kebaikan dari sahabat-sahabat semua. Terlebih kebaikan salah satu rekan asramaku, teh Fitri mojang Lembang baik hati yang sudah bersedia menampungku untuk melaksanakan tes kala itu. Dilengkapi oleh rekan-rekan sekamarku di asrama dulu, perjalanan kemarin sungguh berkesan. Terima kasiih. Selesai seleksi, tujuan yang sesungguhnya adalah pulang ke rumah. Yaa, aku bukan warga Bandung, hanya penduduk biasa yang belajar di Bandung. Rumahku ada di Sukabumi, kabupaten tepatnya. Jaraknya dari Bandung sangatlah tidak bisa dikatakan dekat. Kalau ada waktu, coba deh search kecamatan Waluran atau Jampangkulon di maps. You’ll know how far it is. Jadi, pulang kali ini adalah sebenar-benar perjuangan berat buatku.

Seperti lagu Endang Soekamti yang menyatakan “datang akan pergi, lewat ‘kan berlalu, ada kan tiada, bertemu akan berpisah.” Waktu izin telah berakhir. All I have to do is kembali ke pulau dewata sebelum banyak tertinggal. Berat rasanya. Sedari dulu aku tidak pandai membendung tangis saat harus pergi ke Bandung setelah lama di rumah. Dan sekarang? Hmmm, jangan lagi ditanya. Harus pergi setelah hanya beberapa hari bertemu dan berkumpul dengan beberapa orang di kampung halaman. Sesak. Nangis sudah jelas.

Waktu tempuh dari rumahku menuju bandara di Bandung itu sekitar 6-7 jam (jika tanpa macet). Lalu, dari bandara Bandung ke Denpasar perjalanan menghabiskan waktu sekitar 2 jam (belum delaynya). Dan, dari bandara Denpasar di Bali selatan menuju tempat tinggalku di Bali utara membutuhkan waktu tempuh sebanyak kurang lebih 2,5 jam jika dengan sepeda motor. Jadi, bisa dibayangkan harus jam berapa aku terbang agar tidak sampai terlalu sore di Denpasar?

Di sini, pertolongan-Nya hadir menakjubkan lagi. Dengan kebaikan hatinya, teh Asti salah satu temanku di daerah Buah Batu memperbolehkanku singgah di rumah saudaranya. Di Bandung kala itu hujan. Ia menungguiku yang terjebak jahatnya macet dengan dua payung di tangannya. Padahal, dia harus berjalan jauh dari rumah saudaranya itu. Sudah dijemput, basah-basahan dengan jalan kaki, ia sediakan makan malam pula.  Besoknya sebelum berangkat pun, sarapan disediakan. Padahal dia harus berangkat kuliah sangat pagi. Yaa Allaah. Terima kasih teh.

Pagi, sekitar pukul 08.00 WIB aku menuju bandara Husein Sastranegara Bandung diantar driver online yang praktis mengurangi beban seorang yang harus pergi sendiri tanpa tahu jalan sepertiku. Hehehe.  Tiba di bandara, apakah sedih? Yaa. Banyak orang yang diantar oleh orang tua, keluarga, dan rekan-rekan untuk pergi. Aku? Sendiri. Sampai-sampai seorang Ibu yang hendak mengantar anak lelakinya bertanya, “Neng sendirian?” Kubalas dengan anggukan dan senyum. Sebetulnya ada beberapa rekan yang meminta untuk bisa antar ke bandara, tapi rencana keberangkatanku tidak kukabarkan pada mereka. Aku tau, mereka akan repot kalau harus ke bandara, hanya untuk mengantar. Rasanya doa mereka pun sudah cukup dan memang itu yang terpenting.

Waktu penerbangan tiba. Alhamdulillaah, atas izin-Nya dan doa dari segenap keluarga dan teman aku landing dengan selamat. Kebaikan-Nya kembali hadir setelah sekitar pukul 14.00 aku tiba di I Gusti Ngurah Rai airport. Teman sekamarku Firsty menawari untuk pulang bersama. Sungguh, ku terharu. Setelah makan bersama di daerah Kerobokan, kami menempuh perjalanan ke Bali Utara melawan panasnya Denpasar dan dinginnya Bedugul. Alhamdulillaah, lancar selamat.

Well, ku kembali menjalani rutinitas di pulau dewata. Setelah ditinggal pulang, rasanya semakin panas suhu di sini. Jika di Lembang suhunya 17°C, maka di SIngaraja bisa sampai 34°C. Benar kata temanku, mungkin ini salah satu tanda untukku agar bersyukur bisa menjadi warga Jawa Barat dengan suhu ademnya. Alhamdulillaah…

Di rutinitas November ini, siklus kuliah berjalan seperti biasa. Cerita berkesannya adalah, aku dan teman-teman lain bisa menyaksikan sebuah event kreasi mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni dengan suguhan seni yang luar biasa keren. Bulan ini juga dilengkapi dengan hadirnya seorang praktisi pendidikan bernama Adrian Rodgers. Kami belajar dan bermain bersama para dosen dalam sebuah kelompok. Seruu. Selain itu, aku juga menghabiskan waktu dengan hal-hal gila tapi menyenangkan (sambung lagu, truth or dare, bercanda, berburu durian, curhat ekstra, dan banyak hal lainnya) bersama teman-temanku. Alhamdulillaah. Semua membuat kami lebih mengerti bagaimana indahnya berteman, bagaimana memahami sikap setiap orang.

Oya, berkaitan dengan durian, banyak yang tanya di snapgram ko bisa murah? Yaa, bagaimana tidak, harganya mulai dari 5.000 saja loh. Entah bagaimana, di Singaraja harga buah memang relatif murah. Asal yang lokal, berasal dari penduduk asli sini. Selain durian, ada lagi buah yang mudah ditemukan di sini, yaitu anggur. Sahabatku yang asli Bali, Negara tepatnya terakhir membawakan oleh-oleh untuk kami anggur segar yang dibelinya hanya dengan 15.000 rupiah untuk 2kg. Dan adik tingkatku yang sudah lebih dulu tinggal di Singaraja menambahkan, bahkan harga anggur segar bisa hanya 5.000 rupiah/kg. Wow kan? Jadi, jangan ragu untuk main ke Bali Utara ya. Kekayaan alamnya ga kalah ko dengan daerah Bali lainnya. J

Ternyata masih ada lagi momen yang tak mungkin aku lupakan di November ini. Betapa tidak, seperti sebelum-sebelumnya aku dan teman-teman tanpa banyak merencanakan bisa kembali mengeksplor indahnya pulau dewata ini. Pada 24 November, aku dan teman-teman membentuk kesebelasan untuk mengunjungi kawasan wisata Gili Putih, di Desa Sumberkima Kecamatan Gerokgak.

Gili Putih merupakan sebuah destinasi pantai baru di Bali Utara, dimana tujuan utamanya ialah sebuah pulau berupa gundukan pasir putih yang cantik. Untuk menuju pulau ini, para pengunjung dapat menggunakan perahu mesin nelayan yang banyak ditawarkan di sana. Dengan harga 300.000,- rupiah untuk menuju dan kembali dari pulau, para pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan yang menakjubkan. Air laut yang jernih, pasir putih dan hewan-hewan yang jelas terlihat di bawah beningnya permukaan air, ada juga keramba apung tempat budidaya perikanan, udara segar, ah tidak rugi rasanya. Untuk mahasiswa dan para nekat travelers, jangan khawatir harga ini bisa dibagi banyak orang. Aku pun membaginya untuk sebelas orang. Hehehe, hemat kan?

Belum selesai, November ini dilengkapi juga dengan kajian rutin di Ngareng, akhir peerteaching, hujan kedua setelah 4 bulan tinggal, dan adanya festival Jepang yang diadakan salah satu jurusan di kampusku. Momen lainnya terlalu panjang jika dijelaskan. Beberapa view Gili Putih dan wisata alam Bali murah meriah lainnya ada di channel YOUTUBE Fauziah Anggraeni Dewi ya. Silakan klik dan subscribe, *eeeh.

Semua kisah ini, adalah untuk diingat dan disyukuri setiap harinya. Memang, bagiku semuanya bikin baper, tapi belum tentu buat readers semua, hehehe. Sedihnya perpisahan, hebatnya orang tua, harunya pertemanan, nikmatnya berjuang, semua kalau dibaperin ya baper. Tapi, siapa suruh sedih? Siapa suruh baper? Jadi, stay strong!

See you in the end of December. 

Terima kasih lagi sudah mampir, boleh komen dan kasih masukan ya. :)



Temanmu,

 Fauziah Anggraeni Dewi

Rabu, 14 November 2018

Laporan Oktober

Bulan ketiga ini diawali dengan rutinitas workshop seperti siklus sebelumnya. Ada juga  kegiatan mingguan rutin yang ku ikuti bersama kawan Muslimah lainnya di Singaraja ini, yakni ngaji bareng atau biasa kami singkat NGARENG.

Ngareng ini dilaksanakan rutin setiap Jumat malam. Di dalamnya kami adakan tilawah bersama, sharing dan silaturahim. Waktunya sekitar pukul 19.15 WITA atau ba’da isya. Tempatnya bergiliran, di Jalak Putih atau di tempat tinggal kami, Jalan Kenanga. Di hari libur kemarin, kajian juga dilaksanakan di taman kota. Senang rasanya, dikuatkan oleh para muslimah lain yang juga berjuang dan menjadi keluarga di perantauan ini.

DI salah satu pertemuan ngareng yang ku ikuti, seorang pembicara berkata bahwa hidup di pulau dewata ini memang tidak mudah. Perlu usaha lebih untuk bisa tetap istiqomah dalam kebaikan. Satu lagi yang kuingat betul dari kajian tersebut dikatakan ‘bisa jadi orang tuamu melepas kamu untuk menempuh pendidikan ini dengan berat hati. Duh, Bali.”

Betul, bicara soal merantau memang tidak mudah. Rasanya hidup jauh dari orang tua dalam waktu yang relatif lama terlebih di beda pulau begini memang tidak mudah sama sekali. Demikain pula denganku. Sempat terbersit rasa bosan hidup LDR-an terus dengan Ibu Apa dan keluarga. Mulai dari kuliah 4 tahun, tinggal di pondok hampir setahun, dan sekarang tambahan (kalau diizinkan sampai selesai) setahun untuk pendidikan profesi ini. Tapi kembali lagi, semua ini sudah menjadi rencana-Nya, sang Penata hidup terbaik. Menjalaninya dengan penuh rasa syukur diikuti sabar adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan tahapan ini. Bismillaah..

Oya, kembali lagi ke ‘laporan bulanan’ hehe. Oktober ini selain diisi dengan siklus lanjutan dan ngareng, ada juga jalan-jalannya. Alhamdulillaah, masih diberi kesempatan untuk bertadabbur alam, menyadari betapa kecilnya diri ini dibanding megahnya gunung, luasnya laut, indahnya langit, daaan banyak lagi ciptaan-Nya.

Jalan-jalan Oktober ini kami (Kaliuntu girls plus dua putri Bali: Putu dan Mareta) kunjungi Air Terjun Jembong, Ambengan. Lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Sekitar 20 menit dengan sepeda motor, sampai. Cocok untuk target jalan-jalan dadakan seperti yang kami lakukan kemarin.

Di tempat ini, ada beberapa kolam yang airnya bersumber dari air terjun jembong. Segaaaar. Ini yang ku suka dari kolam renang di Singaraja. Dulu di kolam Alamandao (lihat postingan sebelumnya), lokasinya di tengah-tengah hamparan sawah dan gunung, airnya jernih, segar. Ini pun sama. Segar airnya benar-benar tidak membuat rambut atau kulitmu rusak lho. Ditambah, pemandangannya yang juara dengan tiket masuk super murah meriah. Kalau di di Alamandao Rp. 10.000 untuk bisa masuk, maka di Jembong ini hanya perlu Rp. 5.000 untuk masuk ke area air terjun dan 5.000 juga untuk kolam renang dengan bebas penggunaan ban renang. Pilih salah satu saja juga bisa. Bonus yang tak kalah menarik dari tempat ini ialah, kamu bisa nikmati rindangnya pepohonan yang jika kebetulan duriannya sedang berbuah, dijamin bikin kepingin. Hihihi.

Cerita lain di Oktober ini ialah keharuan ditinggal mudik beberapa rekan ke kampung halamannya. Ada yang ke Jogjakarta, Surabaya, Sidoarjo, Kediri, dan daerah lain di Jawa tengah dan timur. Kenapa pulang? Rekan-rekanku mengikuti seleksi CPNS dan melaksanakan SKD di sana. Lalu, apakah aku juga akan pulang? Ah, entahlah. Masih menunggu Sang Penentu menunjukkan lembar skenarionya lagi. Hehehe

Hei, ternyata tepat di ujung Oktober kemarin rasanya aku bisa pulang. Tepat pada tanggal 31 Oktober setelah pengumuman jadwal tes CPNS Kemenag Jabar sekitar pukul 20.30 WITA resmi keluar. Dan tahukah teman? Fau harus pulang dan pesan tiket saat itu juga untuk bisa pulang ke Jawa besok subuhnya. Memang, ikuti seleksi CPNS ini adalah satu-satunya cara agar bisa izin pulang beberapa hari dari perkuliahan. Jadi, setelah dinyatakan seleksi administrasi lolos dan bisa ikut tahap selanjutnya, jelas aku katakana: ”Ya. Pulang!”

Cerita selanjutnya, soal mendadak harus terbang saat belum lama sebuah maskapai penerbangan yang biasa juga kupakai mengalami kecelakaan akan dibahas di laporan November ya. Maaf, laporan Oktober ini telat publish karena laptopnya lelah (mungkin) diajak kesana-sini Singaraja-Denpasar-Bandung-Sukabumi-Bandung-Denpasar-Singaraja. :”)

Semoga ga bosan dengan tulisan yang lebay ini. Terima kasih sudah mengikuti jalan ceritaku yang begini adanya. Kudoakan, semoga pembaca semua sehat selalu ya. Aamiin.





Singaraja, 14 November 2018
Presentasi Siklus ke sekian

With arek Suroboyo

Ngareng di tamkot Singaraja

Ngareng di Jalan Kenanga

Jembong waterfall


Belajar jutek, tapi malah...