Minggu, 01 Mei 2016

Cerpen SMA (Belum ada judul)

Seketika wajahku memucat, seluruh tubuhku gemetar, pipiku mulai basah. Seperti petir  menyambar di siang yang terik, menggelegar.  Menghantam kesunyian. Semua kenyataan ini seperti pisau tajam yang seketika memutuskan tali impianku yang kuat. Tali yang semenjak dulu kugenggam erat, kupertahankan, kujaga, kuandalkan, dan selalu menguatkan hati ini untuk tetap yakin melangkah.
            Jika saja aku tahu bahwa tali itu akan putus secepat ini, mungkin sedari awal aku takkan terlalu bersusah payah menjaganya.  Mungkin aku sudah bersiap meraih tali lain yang jauh lebih kuat untuk kugenggam. Namun kembali aku tersadar, bahwa apapun yang terjadi di dunia ini memang sudah ada aturannya. Semua berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Ya.. Aku yakini itu.
            Setelah hari itu, aku tetap coba untuk menjalani hari-hari berikutnya dengan kuat. Meskipun jujur, air mataku saat itu lebih mudah terjatuh.  Entah berapa banyak, entah berapa sering aku meneteskan butiran bening itu. Semuanya memang terasa sakit, perih. Mugkin inilah kesedihan yang paling menyedihkan yang pernah kurasa. Bukan perih, sedih, luka ataupun sakit yang biasa teman-temanku rasakan saat mereka diputuskan cintanya oleh sang kekasih, bukan pula kesedihan yang mereka rasa saat mendapat hasil jelek  ketika ulangan kimia. Semua yang kurasa saat itu memang jauh lebih sederhana dari semua yang mereka alami, namun benar-benar menyakitkan dan jauh lebih manyedihkan bagiku.
***
            Mataku masih sembab. Aku berharap semoga Ibu tak menyadarinya. Sejak saat itu,  aku lebih sering terbangun malam sekedar untuk bertemu dengan-Nya. Mengadukan semua yang aku rasa. Melampiaskan semua keluh kesah, menangis, memohon, mengemis, mengadu, dan menghabiskan sisa malam hingga fajar memaksaku untuk berhenti.

            Lantunan adzan mengalirkan lirih, membuai pagi yang mulai menggeliat melepas gelap.  Dari sedikit celah pintu kamarnya, kulihat Ibu yang tampak menengadah. Kedua telapak tangannya terbuka, kelopak matanya yang mulai cekung terpejam, hening. Aku tahu, saat ini ibu sedang bermunajat pada Sang Maha memberi. Dan aku tahu, diantara sekian baris doaya, Ibu selalu menyisipkan namaku. Terlebih, dengan keadaanku sekarang. Perlahan, air mataku menetes basahi pipi. 
.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar