Seketika
wajahku memucat, seluruh tubuhku gemetar, pipiku mulai basah. Seperti petir menyambar di siang yang terik,
menggelegar. Menghantam kesunyian. Semua
kenyataan ini seperti pisau tajam yang seketika memutuskan tali impianku yang
kuat. Tali yang semenjak dulu kugenggam erat, kupertahankan, kujaga,
kuandalkan, dan selalu menguatkan hati ini untuk tetap yakin melangkah.
Jika saja aku tahu bahwa tali itu akan putus secepat ini,
mungkin sedari awal aku takkan terlalu bersusah payah menjaganya. Mungkin aku sudah bersiap meraih tali lain
yang jauh lebih kuat untuk kugenggam. Namun kembali aku tersadar, bahwa apapun
yang terjadi di dunia ini memang sudah ada aturannya. Semua berjalan sesuai
dengan kehendak-Nya. Ya.. Aku yakini itu.
Setelah hari itu, aku tetap coba untuk menjalani
hari-hari berikutnya dengan kuat. Meskipun jujur, air mataku saat itu lebih
mudah terjatuh. Entah berapa banyak,
entah berapa sering aku meneteskan butiran bening itu. Semuanya memang terasa
sakit, perih. Mugkin inilah kesedihan yang paling menyedihkan yang pernah
kurasa. Bukan perih, sedih, luka ataupun sakit yang biasa teman-temanku rasakan
saat mereka diputuskan cintanya oleh sang kekasih, bukan pula kesedihan yang
mereka rasa saat mendapat hasil jelek
ketika ulangan kimia. Semua yang kurasa saat itu memang jauh lebih
sederhana dari semua yang mereka alami, namun benar-benar menyakitkan dan jauh
lebih manyedihkan bagiku.
***
Mataku masih sembab. Aku berharap semoga Ibu tak
menyadarinya. Sejak saat itu, aku lebih sering
terbangun malam sekedar untuk bertemu dengan-Nya. Mengadukan semua yang aku
rasa. Melampiaskan semua keluh kesah, menangis, memohon, mengemis, mengadu, dan
menghabiskan sisa malam hingga fajar memaksaku untuk berhenti.
Lantunan adzan mengalirkan lirih, membuai pagi yang mulai
menggeliat melepas gelap. Dari sedikit
celah pintu kamarnya, kulihat Ibu yang tampak menengadah. Kedua telapak
tangannya terbuka, kelopak matanya yang mulai cekung terpejam, hening. Aku
tahu, saat ini ibu sedang bermunajat pada Sang Maha memberi. Dan aku tahu,
diantara sekian baris doaya, Ibu selalu menyisipkan namaku. Terlebih, dengan
keadaanku sekarang. Perlahan, air mataku menetes basahi pipi.
.....