Semoga
sehat selalu yaa.
Memasuki
bulan ketiga, setelah 31 Juli terbang rasanya semakin banyak hal-hal
menakjubkan terjadi. September di Bali telah terlalui. Beberapa momen akan coba
dituang di sini, hehehe.
Banyak
pertanyaan, di Bali ngapain? Main melulu. Waaah, tidak. Ini jawabannya.
Rutinitas
kami, mahasiswa PPG Bahasa Inggris dalam seminggu (weekdays) ialah workshop.
Workshop ini terdiri dari beberapa siklus untuk tiap tingkatan SMP, SMA, dan SMK.
September kemarin kami masuk siklus 3-4, yakni memperdalam perencanaan dan
pelaksanaan pembelajaran untuk SMP kelas VII dan VIII.
Setelah
workshop, di setiap akhir siklus kami punya agenda untuk presentasi kelompok dan
peer-teaching. Agenda terakhir tiap siklusnya adalah formative test. Begitulah
kurang lebih gambaran kegiatan perminggu kami.
Selanjutnya,
agar Pendidikan dan hiburan seimbang kami seringkali diberi saran oleh
dosen-dosen tercinta untuk jangan terlalu terkurung dalam rutinitas kuliah.
Nikmati indahnya Bali, explore kemana saja. Biar pas ditanya, “sudah kemana
saja di Singaraja” bisa jawab. Hehe.
Oya,
Singaraja itu Bali bagian utara. Ibu kota kabupaten Buleleng. Letaknya cukup jauh dari Denpasar menurutku.
Dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dibutuhkan waktu sekitar 3 jam
untuk bisa mencapai lokasi kampusku.
Nah,
Singaraja ini sering disebut sebagai kota pendidikannya Bali. Salah satu
dosenku sempat bilang juga, “kalau mau belajar sungguh-sungguh, Singaraja lah
tempatnya.” Karena memang, para pendatang di kota ini kebanyakan adalah pelajar. Di sini juga tidak terlalu ramai seperti Denpasar.
Bicara
soal keindahan, sungguh Singaraja memiliki pesonanya yang luar biasa. Pantainya,
sawah-sawah, bunga-bunga di sekitar pemukiman warga,
bangunan khas Bali, keberagaman warganya yang tetap saling menghargai, ah
banyak lagi.
Jujur,
sempat merasa heran dan ragu teramat sangat ketika harus mengambil pilihan ini.
Tapi seiring waktu berjalan, semakin tersadari rasanya bahwa ini adalah salah satu jawaban dari do'aku. Benar, tanpa disadari aku sering berkata pada diri sendiri dan berharap pada Sang Maha Pendengar bahwa aku akan belajar lagi, entah bagaimana caranya harus bisa tanpa biaya dari orang tua lagi (Tapi waktu itu pernah berpikir juga untuk belajar bareng dan dibiayain suami sih, hehehe). Benar saja, di Bandung selain belajar dari banyak lingkungan di sini pun menjadi ladang ilmu selanjutnya. Alhamdulillaah..
Selanjutnya, tugasku adalah menjalani setiap kegiatan sebaik mungkin dengan niat belajar menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa bermanfaat bagi banyak orang nantinya. And I believe, everything happens for a reason. Maha Penentu pasti punya alasan kenapa aku bisa sampai di titik ini. :)
Selanjutnya, tugasku adalah menjalani setiap kegiatan sebaik mungkin dengan niat belajar menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa bermanfaat bagi banyak orang nantinya. And I believe, everything happens for a reason. Maha Penentu pasti punya alasan kenapa aku bisa sampai di titik ini. :)
Oya,
bicara soal momen menarik di bulan September lalu ada beberapa yang kucoba tuang di catatan kali ini. Pertama, pengalaman jadi interpreter amatiran
di Pelabuhan Ex-Buleleng untuk bantuin anak-anak kecil disana minta foto ke
Poland man. Lalu, jalan-jalan (kegiatan keasramaan /outbond) ke The Sunas Bali
di Desa Menyali, atas undangan salah satu dosen kami yang baik hati, Pak
Budashi. Selanjutnya, kegiatan explore ala-ala ‘Kaliuntu Girls’ (sebutan untuk kami yang telah pindah dari
Banyuning :p ) ialah menuju Sekumpul Waterfalls. Ah, kalian harus coba ke
sana pokonya. Indah pisan!
Next
sweet moment, KG juga ngabolang ke Bedugul. Yaa, tempat terkenal di Bali yang
rasanya tak pernah terlewat untuk dikunjungi para pengunjung domestik ataupun
mancanegara: Pura Uundanu Beratan. Siapa yang tak kenal tempat ini. Walau ini
kali kedua penulis mengunjungi tempat ini, tetap saja tak bosan rasanya. Oh ya,
gambar pura ini juga terdapat pada lembaran uang kertas pecahan 50.000 lho,
hayoo masih ingat?
Pepohonan,
bunga-bunga, hamparan rumput, bentangan danau, udara segar, ditambah
pemandangannya yang keren rasanya akan sangat mungkin membuat Anda betah
berlama-lama berada di lokasi ini. Terlebih bagi Anda yang hobi
mendokumentasikan momen lewat gambar atau video, cocok deh. Hehehe .
Well,
momen terakhir di penghujung September kemarin adalah jalan-jalan dadakan ke
Denpasar dalam rangka ikuti kegiatan Merajut Kebangsaan di monumen Bajra
Sandhi. Ya, kegiatan yang diikuti oleh perwakilan seluruh mahasiswa di Bali ini
berlangsung dengan meriah pada 29 September lalu. Hadir Pak Menteri ristekdikti,
para mahasiswa dan Rektor berbagai perguruan tinggi di Bali pada kegiatan ini.
Dadakan,
kami diberitahukan untuk ikut sekitar satu jam sebelum pemberangkatan.
Untungnya, transportasi disediakan kampus, dengan bus. Jadi, tak ada alasan
untuk kami tidak berangkat. Akhirnya, berangkatlah kami menuju Bali Selatan.
Oya,
sudah dulu ya. Sudah pukul 11:22 PM di sini. Besok kuliah. Hehehe
Semoga
Oktober jadi bulan yang lebih baik lagi. Kalau punya tempat rekomendasi untuk dikunjungi sekitaran Singaraja, tulis di kolom komentar yaa. Semangat selalu apapun yang sedang
Anda jalani. Jangan lupa bersyukur dan senyum. 😊
Singaraja, 1 Oktober 2018
![]() |
| Hitam Putih di hari Rabu |
![]() |
| Situasi kelas |
![]() |
| Interpreting them |
![]() |
| Poland Man |
![]() |
| Peer Teaching 1 |
![]() |
| Pura Ulun Danu Beratan |
![]() |
| Pantai Penimbangan |
![]() |
| The Sunas Bali |
![]() |
| Monumen Braja Sandhi |








